Sutanto dan Standar Ketegasan yang Tak Mudah Dilupakan: “Tertibkan, atau Anda saya copot!”

Foto: Sutanto mantan Kapolri. (dok/ist)

Jakarta, JejakSiber.com - Tidak banyak pemimpin Polri yang namanya tetap diperbincangkan lintas generasi dengan reputasi nyaris tanpa cela. Salah satu yang kerap disebut publik adalah Sutanto, Kapolri periode 2005–2008, figur yang di era kepemimpinannya dikenal luas sebagai simbol ketegasan dan kebersihan institusi.

Ultimatum Satu Pekan yang Mengguncang

Tak lama setelah dilantik pada Juli 2005, Sutanto mengeluarkan instruksi tegas kepada seluruh Kapolda di Indonesia: bereskan perjudian, atau jabatan dicopot. Kalimatnya lugas dan tanpa ruang tafsir — “Tertibkan, atau Anda saya copot!”

Instruksi itu bukan sekadar retorika. Tenggat yang diberikan hanya satu pekan. Indikator kinerja jelas dan terukur. Dalam waktu singkat, ribuan lapak judi — dari kelas besar hingga pengecer togel kampung — tutup serentak. Tidak ada wilayah abu-abu, tidak ada toleransi bagi aparat yang terbukti membekingi.

Langkah ini kemudian dikenang sebagai bagian paling menonjol dari Program 100 Hari Kapolri 2005, yang hingga kini masih menjadi rujukan standar ketegasan kepemimpinan di tubuh Polri.

Rekam Jejak dari Sumatera Utara

Reputasi Sutanto tidak lahir mendadak. Saat menjabat Kapolda Sumatera Utara pada 2000, ia membongkar markas-markas perjudian di Medan yang selama bertahun-tahun dianggap kebal hukum. Keputusan itu berisiko tinggi, namun justru mengangkat namanya sebagai perwira yang berani menyentuh wilayah sensitif.

Citra sebagai “Mister Clean” pun melekat, bukan karena pencitraan, melainkan konsistensi tindakan.

Pukulan untuk Terorisme Asia Tenggara

Pada 9 November 2005, melalui operasi Densus 88, gembong teroris asal Malaysia, Dr. Azahari, dilumpuhkan di Batu, Malang, Jawa Timur. Operasi ini menjadi salah satu pencapaian intelijen dan taktis terbesar Polri di era tersebut.

Keberhasilan itu mengangkat reputasi Indonesia di mata internasional dalam perang melawan terorisme, sekaligus menunjukkan bahwa ketegasan internal berbanding lurus dengan efektivitas eksternal.

Mafia Migas dan Krisis Energi

Di tengah krisis energi 2005, Sutanto juga mengarahkan penindakan terhadap mafia migas dan penyelundupan BBM. Praktik premanisme di pelabuhan serta jalur distribusi energi ditindak tanpa kompromi. Baginya, keamanan dan keadilan publik bukan komoditas tawar-menawar.

Warisan Moral untuk Hari Ini

Setelah purnatugas sebagai Kapolri, Sutanto dipercaya menjabat Kepala BIN (2009–2011) serta Komisaris Utama Pertamina. Rangkaian jabatan strategis itu mempertegas reputasinya sebagai figur kepercayaan negara.

Hari ini, ketika publik kembali mempertanyakan konsistensi penegakan hukum, nama Sutanto kerap disebut sebagai standar pembanding. Bukan untuk romantisasi masa lalu, tetapi sebagai pengingat bahwa institusi sebesar Polri hanya akan dihormati jika dipimpin dengan tangan bersih dan nyali yang tidak goyah.

Warisan terbesar Sutanto bukan jabatan, melainkan pesan sederhana: hukum harus ditegakkan tanpa pandang bulu — atau kepercayaan publik akan runtuh perlahan. (*)

Editor: Js