Menjaga Warisan Kasih

Foto: Penulis Joharman Silaen berdiri di sebelah peti orang tua. (dok/ist)

Oleh: Joharman Silaen, S.Sos.

Sorong, JejakSiber.com – Kepergian orang tua, baik ayah maupun ibu, adalah salah satu ujian terberat dalam hidup manusia. Mengapa? Karena saat sosok yang menjadi fondasi kasih sayang, pelindung, penunjuk arah, sekaligus yang membesarkan dan menyekolahkan anak-anaknya telah berpulang, dunia terasa runtuh.

Situasi inilah yang dialami keluarga Oppung Desy Silaen, di mana keduanya, yakni oppung doli (kakek) dan oppung boru (nenek), telah menghadap Tuhan. Kepergian orang tua kerap menghadirkan penyesalan, seolah bakti yang diberikan belum maksimal selama mereka hidup. Ditambah lagi berbagai persoalan keluarga yang kerap mewarnai perjalanan hidup bersama.

Namun, kematian sesungguhnya bukanlah akhir dari relasi antara anak dan orang tua. Ia hanyalah perpisahan dimensi. Saat luka mendalam melanda, tulisan ini ingin mengajak kita merenungkan bahwa bakti tidak boleh terhenti oleh kematian. Kita, anak-anak yang ditinggalkan, harus melanjutkan warisan kebaikan orang tua.

Sering kali, warisan yang ditinggalkan bukan hanya materi. Lebih dari itu, ada nilai-nilai kehidupan, nasihat, teladan, dan doa. Salah satu cara terbaik menghormati mereka yang telah berpulang adalah dengan meneruskan warisan tersebut. Jika dahulu orang tua mengajarkan kerja keras, kejujuran, disiplin, dan kasih sayang, maka wujud bakti kita adalah menghadirkan nilai-nilai itu dalam kehidupan sehari-hari.

Foto: Kedua orang tua Joharman Silaen semasa hidupnya. (dok/ist)

Bakti tidak pernah putus meski nyawa telah terputus. Doa anak-anak akan selalu sampai, kendati orang tua telah tiada.

Kita tahu, menjaga hubungan baik sesama keluarga dekat adalah pesan yang selalu ditanamkan orang tua semasa hidupnya. Karena itu, persaudaraan harus tetap dirawat, kasih harus tetap dijaga, dan kebersamaan harus tetap dipelihara.

Kematian orang tua juga mengajarkan kita pelajaran paling berharga tentang kefanaan hidup. Pada akhirnya, yang tersisa bukanlah harta benda, melainkan amal dan kebaikan yang pernah ditanam selama hidup.

Selamat jalan untuk orang tua tercinta. Warisan kasihmu akan selalu hidup dalam setiap langkah kami, dan doa kami akan selalu menyertaimu. Sampai jumpa di Jerusalem Baru.

Usia Bapa 83 tahun dan Mama 81 tahun. Keduanya telah marpahoppu dari anak laki-laki maupun anak perempuan, bahkan telah sampai melihat cicit (sahat tu namarnini marnono).