![]() |
| Foto: Ketika Ambisi Disebut Kegilaan, Mengapa Saya Memilih Kecanduan Sekolah?. (dok/ist) |
Opini Publik
Penulis: Jonrius Sinurat, S.H.
Batam, JejakSiber.com - Ada orang yang menganggap ambisi sebagai sesuatu yang berlebihan. Ada pula yang melihat seseorang yang terlalu bersemangat mengejar pendidikan sebagai orang yang sedang mengejar sesuatu yang tidak masuk akal.
Bahkan, ketika seseorang mengatakan ingin terus belajar, terus kuliah, dan terus menempuh pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi meskipun sudah memperoleh gelar akademik, pertanyaan yang muncul terkadang sederhana:
"Untuk apa lagi?"
Pertanyaan itu wajar.
Tetapi bagi saya, pertanyaan tersebut justru melahirkan pertanyaan lain yang lebih besar:
"Kalau masih ada kesempatan untuk belajar, mengapa harus berhenti?"
Saya memilih menyebutnya kecanduan sekolah.
Bukan kecanduan dalam arti medis, tentu saja. Istilah itu saya gunakan sebagai metafora untuk menggambarkan keinginan yang semakin kuat untuk terus belajar, memperluas pengetahuan, dan melanjutkan pendidikan.
Saya bahkan sering berpikir, kalau Tuhan masih memberikan kesempatan, kesehatan, waktu, dan jalan, saya ingin terus belajar sampai Tuhan sendiri yang meminta saya berhenti.
Mungkin bagi sebagian orang, itu adalah ambisi.
Bagi sebagian yang lain, mungkin dianggap kegilaan.
Tetapi bagi saya, justru di situlah tantangannya.
Dari Kecanduan yang Merusak hingga Kecanduan yang Membangun
Kita sering mendengar istilah kecanduan.
Ada kecanduan terhadap narkoba, perjudian, alkohol, gawai, media sosial, bahkan berbagai perilaku lain yang dapat mengganggu kehidupan seseorang.
Kecanduan-kecanduan tersebut dapat memengaruhi cara seseorang berpikir, mengambil keputusan, mengendalikan diri, dan menjalani kehidupan.
Namun, saya mencoba melihat istilah "kecanduan" dari sisi yang berbeda.
Bagaimana jika seseorang justru "kecanduan" membaca?
Bagaimana jika seseorang "kecanduan" belajar?
Bagaimana jika seseorang merasa tidak pernah cukup dengan pengetahuan yang dimilikinya dan selalu ingin memahami sesuatu yang baru?
Tentu saja, semua hal tetap harus dilakukan secara sehat dan proporsional. Pendidikan tidak boleh berubah menjadi obsesi yang mengorbankan keluarga, kesehatan, pekerjaan, atau tanggung jawab.
Tetapi jika semangat belajar membuat seseorang menjadi lebih disiplin, lebih kritis, lebih terbuka, lebih bertanggung jawab, dan lebih bermanfaat bagi orang lain, bukankah semangat seperti itu layak dipelihara?
Di situlah saya menemukan makna lain dari apa yang saya sebut sebagai "kecanduan sekolah."
Kecanduan Sekolah Itu Datang Saat Semester Dua
Menariknya, keinginan untuk terus belajar itu bukan baru muncul setelah saya memperoleh gelar Sarjana Hukum.
Justru jauh sebelumnya.
Saat menjalani perkuliahan, sekitar semester kedua, muncul sebuah pertanyaan sederhana dalam diri saya:
"Kenapa tidak dari dulu?"
Pertanyaan tersebut terus mengganggu pikiran saya.
Bukan karena saya menyesali perjalanan hidup sebelumnya, tetapi karena saya mulai menyadari bahwa pendidikan membuka begitu banyak pintu yang sebelumnya tidak saya lihat.
Semakin banyak belajar, saya justru semakin sadar bahwa masih banyak hal yang belum saya ketahui.
Ironisnya, semakin tinggi seseorang belajar, terkadang semakin ia menyadari betapa luasnya ketidaktahuannya.
Dari situlah keinginan belajar justru semakin tumbuh.
Saya menyelesaikan pendidikan Sarjana Hukum pada Februari 2026. Setelah itu, saya melanjutkan proses Pendidikan Khusus Profesi Advokat (PKPA) dan kemudian mengikuti Ujian Profesi Advokat (UPA) pada Juli 2026.
Tetapi selesai satu tahap ternyata tidak otomatis membuat keinginan belajar ikut selesai.
Sebaliknya, muncul lagi pertanyaan:
"Setelah ini, mau belajar apa lagi?"
Mungkin di situlah saya sadar bahwa saya memang sudah terkena "kecanduan sekolah".
Ketika Uang Bukan Alasan untuk Berhenti Bermimpi
Saya tidak datang dari kehidupan yang selalu penuh dengan kemudahan.
Saya adalah orang yang harus menghitung banyak hal.
Ada kebutuhan keluarga. Ada pekerjaan. Ada tanggung jawab. Ada lima anak yang juga membutuhkan perhatian, pendidikan, dan masa depan.
Karena itu, pendidikan bagi saya bukan sesuatu yang sederhana.
Kuliah membutuhkan biaya.
Melanjutkan pendidikan membutuhkan waktu.
Belajar membutuhkan energi.
Dan menjadi mahasiswa sambil menjalankan pekerjaan serta tanggung jawab keluarga membutuhkan kemampuan untuk membagi kehidupan.
Namun, keterbatasan finansial tidak selalu berarti berakhirnya sebuah mimpi.
Kadang-kadang, keterbatasan justru memaksa seseorang menjadi lebih kreatif dalam mencari jalan.
Ada beasiswa.
Ada program pendidikan yang terjangkau.
Ada kesempatan belajar sambil bekerja.
Ada komunitas.
Ada organisasi.
Ada orang-orang baik yang bersedia membantu.
Ada pula kesempatan yang datang ketika kita tidak berhenti mencari.
Karena itu saya percaya, tidak semua orang harus memiliki modal besar untuk memulai pendidikan.
Tetapi setiap orang membutuhkan keberanian untuk memulai.
Ambisi Kadang Memang Harus Terlihat "Gila"
Sebagian orang berpendapat bahwa ambisi yang terlalu tinggi adalah kegilaan.
Saya memahami pandangan tersebut.
Sebab, dari luar, seseorang yang berani memiliki target besar memang terkadang terlihat seperti sedang bermimpi terlalu jauh.
Tetapi saya memiliki pandangan sederhana:
Untuk melampiaskan ambisi, terkadang kita memang harus berani melakukan sesuatu yang bagi orang lain terlihat sedikit "gila".
"Gila" yang saya maksud bukan kehilangan akal sehat.
Bukan pula melakukan sesuatu secara sembrono.
Yang saya maksud adalah keberanian keluar dari batas kenyamanan.
Ketika orang lain mengatakan, "Tidak mungkin," kita mencoba bertanya, "Bagaimana kalau mungkin?"
Ketika orang lain mengatakan, "Sudahlah, cukup sampai di sini," kita bertanya kepada diri sendiri, "Apakah benar harus berhenti?"
Dan ketika keadaan berkata, "Kamu tidak punya cukup uang," kita mencoba mencari jalan lain.
Sebab hidup memang tidak pernah menjanjikan jalan yang selalu mudah.
Hidup Adalah Tantangan
Saya memiliki sebuah motto:
"HIDUP IBARAT BERTANI."
Bagi saya, motto tersebut bukan sekadar rangkaian kata.
Ia adalah cara memandang kehidupan.
Seorang petani tidak pernah menanam hari ini untuk langsung memanen esok pagi.
Ia menanam.
Ia menyiram.
Ia memberi pupuk.
Ia membersihkan rumput liar.
Ia menjaga tanaman.
Ia menghadapi hujan.
Ia menghadapi kemarau.
Ia menunggu.
Dan pada akhirnya, ia memanen.
Begitu juga kehidupan.
Kita tidak bisa menanam kerja keras hari ini dan menuntut hasil besar besok pagi.
Kita tidak bisa membaca satu buku lalu berharap langsung menjadi orang berilmu.
Kita tidak bisa kuliah satu semester lalu berharap seluruh persoalan kehidupan selesai.
Semuanya membutuhkan proses.
Menanam Benih Kebaikan
Setiap tindakan adalah benih.
Kejujuran adalah benih.
Kerja keras adalah benih.
Disiplin adalah benih.
Kesabaran adalah benih.
Kebaikan adalah benih.
Begitu pula kemalasan, kebohongan, kesombongan, dan kebiasaan buruk juga dapat menjadi benih yang suatu hari menghasilkan buahnya sendiri.
Karena itu, kita perlu berhati-hati dengan apa yang kita tanam.
Sebab kehidupan sering kali mempertemukan kita dengan hasil dari apa yang kita lakukan sebelumnya.
Merawat dengan Konsisten
Menanam saja tidak cukup.
Petani harus merawat tanamannya.
Begitu pula manusia.
Mimpi harus dirawat.
Pendidikan harus dirawat.
Keluarga harus dirawat.
Pekerjaan harus dirawat.
Reputasi harus dirawat.
Hubungan dengan sesama harus dirawat.
Dan semua itu membutuhkan konsistensi.
Banyak orang memiliki mimpi besar, tetapi tidak semua orang bersedia melakukan pekerjaan kecil secara konsisten.
Padahal, sering kali masa depan dibangun bukan dari satu tindakan besar, melainkan dari ribuan tindakan kecil yang dilakukan berulang-ulang.
Menghadapi Hujan dan Kemarau
Petani tidak bisa memerintah hujan turun sesuai keinginannya.
Ia juga tidak bisa memerintahkan matahari berhenti bersinar ketika tanaman membutuhkan air.
Yang dapat dilakukan adalah beradaptasi.
Begitu juga kehidupan.
Ada masa ketika pekerjaan lancar.
Ada masa ketika keuangan sulit.
Ada masa ketika kesehatan prima.
Ada masa ketika tubuh meminta istirahat.
Ada masa ketika orang-orang mendukung.
Ada masa ketika justru kita harus berjalan sendirian.
Hidup mengajarkan kita untuk membedakan mana yang dapat kita kendalikan dan mana yang harus kita terima.
Kuliah Adalah Menanam untuk Masa Depan
Bagi saya, pendidikan tinggi adalah salah satu bentuk investasi jangka panjang.
Kuliah bukan sekadar mengejar selembar ijazah.
Di ruang kelas, seseorang sedang membentuk cara berpikir.
Tugas mengajarkan tanggung jawab.
Diskusi mengajarkan keberanian menyampaikan pendapat.
Perbedaan pendapat mengajarkan kita untuk menghargai perspektif orang lain.
Dosen mengajarkan pengetahuan.
Buku memperluas wawasan.
Penelitian melatih ketelitian.
Skripsi mengajarkan kesabaran.
Dan kegagalan mengajarkan kerendahan hati.
Karena itu, wisuda sebenarnya bukan akhir.
Wisuda adalah salah satu musim panen.
Setelah panen pertama, masih ada ladang yang lebih luas untuk digarap.
Gelar Sarjana Hukum yang saya peroleh bukan garis finish.
Bagi saya, itu adalah pintu masuk menuju perjalanan berikutnya.
Pendidikan Tidak Harus Menunggu Kaya
Ada satu hal yang ingin saya sampaikan kepada siapa pun yang sedang membaca tulisan ini, terutama mereka yang merasa bahwa pendidikan tinggi hanya milik orang yang memiliki kemampuan ekonomi.
Jangan buru-buru menyimpulkan bahwa mimpi Anda harus mati karena kondisi ekonomi.
Memang benar, pendidikan membutuhkan biaya.
Namun jangan biarkan keterbatasan biaya membunuh keinginan untuk belajar.
Cari informasi.
Cari beasiswa.
Cari program pendidikan yang sesuai.
Bekerjalah jika harus bekerja.
Belajarlah sambil bekerja jika memungkinkan.
Mulailah dari kemampuan yang ada.
Tidak semua orang mempunyai titik awal yang sama.
Ada yang lahir dalam keluarga berkecukupan.
Ada yang harus membiayai sekolah sendiri.
Ada yang harus bekerja sejak muda.
Ada yang sudah menikah ketika kuliah.
Ada yang memiliki anak.
Ada yang kuliah sambil bekerja.
Ada yang harus menempuh perjalanan panjang hanya untuk mendapatkan pendidikan.
Tetapi perbedaan titik awal tidak otomatis menentukan titik akhir seseorang.
Yang terpenting adalah jangan berhenti bergerak.
Kepada Mereka yang Sudah Berkeluarga
Saya juga ingin berbicara kepada mereka yang sudah menikah dan memiliki anak.
Kadang-kadang setelah berkeluarga, seseorang merasa bahwa pendidikan sudah bukan lagi prioritas.
"Sudah menikah."
"Sudah punya anak."
"Sudah bekerja."
"Sudah terlalu tua."
Kalimat-kalimat seperti itu sering kali menjadi tembok mental.
Padahal belajar tidak memiliki batas usia.
Tentu setiap orang memiliki keadaan yang berbeda. Tidak semua orang harus kuliah.
Tidak semua orang harus mengejar gelar.
Tetapi setiap orang seharusnya memiliki kesempatan untuk terus mengembangkan dirinya.
Bagi saya pribadi, keluarga justru menjadi bagian penting dari perjalanan pendidikan.
Saya tidak ingin anak-anak saya hanya mendengar nasihat tentang pentingnya pendidikan.
Saya ingin mereka melihat contoh bahwa belajar adalah proses sepanjang hidup.
Saya ingin mereka melihat bahwa ayahnya pun masih belajar.
Masih membaca.
Masih bertanya.
Masih mengejar ilmu.
Masih berani memulai sesuatu yang baru.
Karena terkadang pendidikan terbaik bagi seorang anak bukan hanya apa yang dikatakan orang tuanya, tetapi apa yang dilihatnya setiap hari.
Dari Wartawan, Sarjana Hukum, dan Perjalanan yang Belum Selesai
Saya bekerja sebagai jurnalis sejak 2017 hingga sekarang.
Saya juga aktif dalam berbagai organisasi.
Pengalaman sebagai jurnalis mempertemukan saya dengan banyak manusia, banyak persoalan, banyak kepentingan, dan banyak realitas kehidupan.
Dunia jurnalistik mengajarkan saya untuk bertanya.
Pendidikan hukum mengajarkan saya untuk memahami aturan.
Organisasi mengajarkan saya untuk bekerja bersama.
Keluarga mengajarkan saya tentang tanggung jawab.
Dan kehidupan mengajarkan saya tentang ketahanan.
Semua pengalaman itu kemudian bertemu dalam satu kesadaran:
Semakin banyak kita belajar, semakin besar tanggung jawab kita untuk menggunakan pengetahuan itu secara benar.
Karena ilmu bukan sekadar alat untuk mendapatkan pekerjaan.
Ilmu seharusnya menjadi alat untuk memberikan manfaat.
Menabur Kebenaran, Menuai Perdamaian
Saya memiliki sebuah kutipan yang berkaitan dengan motto hidup saya:
"Veritatem Serendo, Pacem Metes; Lex Semen Est, Iustitia Fructus."
Saya memaknainya:
"Dengan menabur kebenaran, kamu akan menuai perdamaian; hukum adalah benihnya, keadilan adalah buahnya."
Sebagai seseorang yang memilih menekuni jurnalistik dan kemudian belajar hukum, saya melihat ada hubungan yang sangat kuat antara kebenaran, hukum, dan keadilan.
Jurnalisme membutuhkan keberanian mencari fakta.
Hukum membutuhkan ketelitian memahami aturan.
Keadilan membutuhkan keberanian memperjuangkan apa yang benar sekaligus menghormati proses dan hak setiap orang.
Ketiganya membutuhkan satu hal yang sama: integritas.
Karena itu, pendidikan hukum bagi saya tidak boleh berhenti pada gelar.
Jika hukum hanya menjadi pengetahuan yang tersimpan di kepala, manfaatnya akan terbatas.
Tetapi jika ilmu hukum digunakan untuk memahami persoalan masyarakat, menjelaskan hak dan kewajiban, serta mendorong penyelesaian persoalan secara adil sesuai hukum, maka ilmu itu mulai menemukan maknanya.
Hosea 10:12 dan Filosofi Menabur
Motto "Hidup Ibarat Bertani" juga mengingatkan saya pada Hosea 10:12:
"Menaburlah bagimu sesuai dengan keadilan, menuailah kasih setia..."
Ayat tersebut bagi saya mengandung pesan penting tentang proses.
Menabur terlebih dahulu.
Baru kemudian menuai.
Dalam kehidupan, kita sering ingin langsung menikmati hasil tanpa melewati proses.
Kita ingin sukses tanpa bersusah payah.
Ingin pintar tanpa membaca.
Ingin memiliki gelar tanpa belajar.
Ingin dihormati tanpa membangun integritas.
Ingin memiliki kehidupan yang lebih baik tanpa berani mengambil risiko dan menghadapi tantangan.
Padahal alam mengajarkan hukum yang sederhana:
Tidak ada panen tanpa benih.
Kalau Ambisi Disebut Kegilaan
Lalu bagaimana jika suatu hari ada yang mengatakan bahwa ambisi saya untuk terus sekolah adalah kegilaan?
Saya tidak perlu marah.
Mungkin memang terlihat seperti itu dari sudut pandang orang lain.
Tetapi saya memilih memahami setiap orang memiliki ukuran kehidupan yang berbeda.
Ada orang yang merasa cukup setelah menyelesaikan sekolah menengah.
Ada yang ingin bekerja.
Ada yang ingin membangun usaha.
Ada yang ingin menjadi profesional.
Ada yang ingin menjadi akademisi.
Ada pula yang ingin terus belajar sepanjang hidup.
Semua memiliki jalan masing-masing.
Saya hanya ingin menjalani jalan saya sendiri.
Jika ambisi untuk terus belajar dianggap terlalu tinggi, biarlah.
Jika keinginan untuk melanjutkan pendidikan dianggap terlalu berani, saya akan menerimanya.
Tetapi saya ingin memastikan satu hal:
Ambisi itu harus dibayar dengan kerja keras, bukan sekadar kata-kata.
Sebab bermimpi itu gratis.
Tetapi mewujudkan mimpi membutuhkan harga.
Harga itu bisa berupa waktu, tenaga, uang, disiplin, kegagalan, penolakan, air mata, bahkan pengorbanan.
Jangan Takut Memiliki Mimpi yang Besar
Kepada siapa pun yang sedang membaca tulisan ini, saya ingin mengatakan:
Jangan takut memiliki mimpi yang besar.
Tetapi jangan pula menjadi orang yang hanya pandai bermimpi.
Jika ingin sekolah, carilah jalan untuk sekolah.
Jika ingin kuliah, carilah informasi tentang kampus dan pembiayaan.
Jika belum mampu kuliah sekarang, bukan berarti selamanya tidak mampu.
Jika harus bekerja terlebih dahulu, bekerja.
Jika harus menabung, menabung.
Jika harus memulai dari bawah, mulailah.
Tidak perlu malu dengan titik awal.
Sebab petani pun tidak memulai dari buah.
Ia memulai dari benih.
Begitu pula manusia.
Karena Hidup Ibarat Bertani
Saya tidak tahu sampai kapan perjalanan pendidikan ini akan berlangsung.
Saya tidak tahu gelar apa lagi yang mungkin akan saya kejar.
Saya juga tidak tahu apakah semua rencana pendidikan yang ada di kepala saya akan benar-benar terwujud.
Tetapi saya tahu satu hal:
Saya ingin terus menanam.
Menanam ilmu.
Menanam pengalaman.
Menanam kebaikan.
Menanam kejujuran.
Menanam keberanian.
Menanam kerja keras.
Menanam kebenaran.
Sebab suatu hari nanti, ketika musim panen tiba, saya ingin melihat bahwa benih yang saya tanam tidak hanya menghasilkan sesuatu untuk diri saya sendiri.
Saya ingin hasilnya dapat dirasakan keluarga.
Dapat dirasakan anak-anak.
Dapat dirasakan masyarakat.
Dan jika Tuhan berkenan, dapat menjadi sesuatu yang bermanfaat bagi lebih banyak orang.
Saya lahir dan dibesarkan di Riau sebagai bagian dari keluarga Batak Toba. Saya menjalani kehidupan sebagai seorang suami, ayah dari lima anak, jurnalis, organisator, dan kini Sarjana Hukum.
Perjalanan itu belum selesai.
Justru mungkin baru dimulai.
Bagi saya, memperoleh gelar bukan alasan untuk berhenti belajar.
Sebaliknya, gelar adalah pengingat bahwa masih banyak hal yang belum saya ketahui.
Maka jika suatu hari ada yang bertanya:
"Sampai kapan kamu mau sekolah?"
Jawaban saya sederhana:
"Sampai Tuhan meminta saya berhenti belajar."
Karena saya percaya, selama manusia masih hidup, selalu ada sesuatu yang dapat dipelajari.
Dan selama masih ada kesempatan untuk menanam, jangan terlalu cepat meninggalkan ladang.
Hidup ibarat bertani.
Tanamlah sesuatu yang baik.
Rawatlah dengan kesabaran.
Hadapilah hujan dan kemarau.
Jangan takut gagal panen.
Tanamlah kembali.
Sebab kehidupan bukan hanya tentang seberapa cepat kita sampai di tujuan.
Kehidupan juga tentang apa yang kita tanam sepanjang perjalanan.
Veritatem Serendo, Pacem Metes; Lex Semen Est, Iustitia Fructus.
Dengan menabur kebenaran, kita akan menuai perdamaian; hukum adalah benihnya, keadilan adalah buahnya.
Dan mungkin, pada akhirnya, itulah makna sebenarnya dari ambisi:
bukan sekadar ingin menjadi lebih tinggi dari orang lain, tetapi berusaha menjadi lebih baik dari diri kita yang kemarin.



















