Header Ads Widget

Sekda Batam Tantang 800 Calon Wisudawan UT Jadi Motor Indonesia Emas 2045

Foto: Sekda Batam Tantang 800 Calon Wisudawan UT Jadi Motor Indonesia Emas 2045. (dok/ist)

Batam, JejakSiber.com - Firmansyah menantang sekitar 800 calon wisudawan Universitas Terbuka untuk menjadi motor penggerak terwujudnya Indonesia Emas 2045 melalui inovasi dan keberanian berpikir berbeda.

Tantangan tersebut disampaikan saat ia menjadi narasumber dalam Seminar Akademik UT Periode I Tahun Akademik 2025/2026 Ganjil yang digelar di Hotel Pacific, Jodoh, Jumat (13/2/26). Kegiatan itu dihadiri calon wisudawan jenjang magister, sarjana, dan diploma, serta jajaran akademisi.

Dalam paparannya, ia menegaskan bahwa inovasi bukan sekadar program kerja, melainkan sikap mental dalam merespons perubahan zaman.

“Inovasi bukan milik orang yang nyaman. Inovasi adalah milik orang yang gelisah. Ketika kita berhenti gelisah, kita berhenti mencari. Ketika kita berhenti mencari, kita berhenti bertumbuh,” tegasnya di hadapan civitas akademika.

Ia menyebut kampus sebagai ruang paling subur bagi lahirnya kegelisahan intelektual sekaligus rumah inovasi yang melahirkan solusi bagi masyarakat.

“Kampus bukan hanya tempat belajar teori. Kampus adalah laboratorium peradaban. Tempat masalah diuji, diperdebatkan, lalu dilahirkan kembali sebagai solusi yang berdampak nyata,” ujarnya.

Menurutnya, Indonesia kini berada pada fase krusial menghadapi bonus demografi, ketimpangan kualitas sumber daya manusia, serta tantangan global seperti kecerdasan artifisial, perubahan iklim, dan ekonomi hijau.

“Kita sedang berada di persimpangan sejarah. Bonus demografi bisa menjadi berkah atau beban. Semuanya ditentukan oleh kualitas generasi mudanya hari ini,” katanya.

Menuju satu abad kemerdekaan pada 2045, ia menekankan generasi unggul tidak lahir dari kebijakan yang biasa-biasa saja.

“Generasi emas tidak lahir dari zona nyaman. Ia lahir dari keberanian berpikir berbeda, bekerja lebih keras, dan mengubah cara lama menjadi cara baru yang lebih relevan,” tegasnya.

Dalam konteks daerah, ia memaparkan posisi strategis Batam sebagai kota industri dan perdagangan internasional sekaligus pintu gerbang Indonesia ke pasar global. Kondisi tersebut, menurutnya, menuntut sumber daya manusia yang unggul, adaptif, dan kreatif.

“Batam tidak hanya membutuhkan tenaga kerja. Batam membutuhkan inovator. Batam tidak hanya membutuhkan lulusan. Batam membutuhkan pencipta solusi,” ungkapnya.

Melalui RPJMD 2025–2030, Pemerintah Kota Batam mendorong penguatan SDM lokal lewat program link and match pendidikan dengan industri, pengembangan ekosistem inovasi berbasis kolaborasi kampus–pemerintah–industri, hingga transformasi ekonomi berbasis pengetahuan dan digitalisasi layanan publik.

Ia juga memaparkan sejumlah inovasi daerah, seperti layanan surat digital di Kelurahan Rempang Cate, layanan terpadu pasien hipertensi di Puskesmas Baloi Permai, digitalisasi pembayaran BPHTB melalui QRIS oleh Bapenda, serta penguatan literasi sains di SMP Negeri 3 Batam.

“Inovasi tidak selalu tentang teknologi canggih. Inovasi adalah keberanian memperbaiki hal-hal kecil agar berdampak besar,” katanya.

Menutup paparannya, ia mengajak para lulusan untuk terus belajar dan menjaga kegelisahan intelektual sebagai bahan bakar perubahan.

“Pertanyaannya bukan apakah kita siap menyongsong 2045. Pertanyaannya, apakah kita cukup gelisah hari ini untuk menyiapkan masa depan itu. Masa depan tidak diwariskan. Masa depan diciptakan,” pungkasnya. (Dikot)

Editor: Js