Header Ads Widget

Setia di Balik Jeruji, Ditinggalkan di Ujung Bebas: Luka Bunga yang Tak Terucap

Foto: HM (kiri) dan Bunga bersama Ibunya, CC saat membawa kue tar untuk merayakan Hari Ulang Tahun HM dibalik jeruji (kanan). (dok/ist/kiriman CC)

Batam, JejakSiber.com – Di balik hiruk-pikuk kawasan Nagoya, Lubuk Baja, tersimpan kisah pilu seorang anak perempuan yang sebut saja Bunga (10). Usianya masih belia, namun hatinya sudah ditempa oleh luka yang tak mudah dipahami anak seusianya.

Sejak seorang narapidana berinisial HM ditahan di salah satu penjara di Kota Batam atas kasus Pekerja Migran Indonesia (PMI) pada 19 September 2023 lalu, Bunga bersama ibu kandungnya, CC, tak pernah absen menjenguk. Mereka datang membawa makanan, minuman, dan kebutuhan lain yang diizinkan petugas.

Bagi Bunga, HM bukan sekadar narapidana. Ia adalah sosok yang pernah begitu dekat dengannya sebelum jeruji besi memisahkan. Rasa sayang itu tumbuh kuat, bahkan di tengah stigma dan jarak yang memisahkan ruang bebas dan ruang tahanan.

Setiap momen spesial tak pernah terlewat. Di Hari Ayah, di hari ulang tahun HM, Bunga menyisihkan uang jajannya demi membeli kue kecil dan kado sederhana. Ia ingin memastikan bahwa di balik dinding penjara, ada seseorang yang tetap mengingat dan peduli.

“Ia selalu ingin membuat HM tersenyum,” tutur CC saat ditemui awak media di kawasan Nagoya, Lubuk Baja, Kota Batam, Rabu siang (25/2/26).

Foto: Bunga sedang menyuap HM dengan kue tar saat merayakan Hari Ulang Tahun HM di balik jeruji. (dok/ist/kiriman dari CC)

Selama HM mendekam di penjara, komunikasi tak pernah putus. HM kerap menelepon, bahkan beberapa kali menangis meminta pertolongan. CC bukan hanya mengirimkan kebutuhan harian, tetapi juga mengurus berbagai surat menyurat hingga menjadi penjamin demi proses kebebasan HM.

Tak hanya HM, keluarga HM juga pernah meminta bantuan kepada CC. Dalam masa sulit itu, Bunga dan ibunya berdiri di garis depan, menjadi sandaran ketika HM merasa dunia seakan menutup pintunya.

Namun waktu berjalan, dan kebebasan akhirnya tiba. HM menghirup udara bebas. Bagi Bunga, itu adalah hari yang dinanti. Ia membayangkan hubungan mereka akan kembali hangat seperti sebelum jeruji membatasi.

Nyatanya, harapan itu runtuh perlahan.

Beberapa bulan setelah bebas, HM justru menjauh. Komunikasi makin jarang, hingga akhirnya terputus. HM disebut telah pulang ke Sungai Selari, Sei Pakning, Kabupaten Bengkalis, Provinsi Riau.

Pesan terakhir yang diterima Bunga menjadi pukulan paling telak. HM menyatakan sudah tidak peduli lagi dengan Bunga dan ibunya.

Bagi seorang anak yang rela menabung demi membelikan kue ulang tahun untuk seseorang di balik jeruji, kalimat itu bukan sekadar pesan singkat. Ia adalah luka yang menancap dalam.

Kini, Bunga hanya bisa menyimpan kenangan. Ia belajar lebih cepat tentang arti kehilangan dan kekecewaan. Tentang bagaimana seseorang bisa begitu membutuhkan saat susah, namun melupakan saat hidup kembali lapang.

Foto: Bunga saat merayakan Hari Ulang Tahun HM di balik jeruji besi. (dok/ist/kiriman dari CC)

Hingga berita ini diterbitkan, media ini belum berhasil mengonfirmasi HM maupun keluarganya untuk mendapatkan keterangan berimbang. Keberadaan HM pun belum diketahui secara pasti.

Kisah ini menjadi pengingat: kebebasan seharusnya menjadi awal memperbaiki diri dan menghargai mereka yang setia mendampingi dalam kesulitan—bukan meninggalkan tanpa jejak. (Js/Hendro Smk/*)

Editor: Red