![]() |
| Foto: kiri ke kanan, Jonrius Sinurat, Priyo Handoko, Alwan Hadiyanto, dan Mei Pramita Yanti Nainggolan usia kegiatan sosialisasi. (dok/ist) |
Batam, JejakSiber.com – Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kota Batam menggelar kegiatan Sosialisasi Pendidikan Politik bagi Organisasi Pemuda dan Masyarakat di Aula Mini Universitas Riau Kepulauan (UNRIKA), Rabu (24/6/2026). Kegiatan ini menjadi wadah strategis dalam meningkatkan pemahaman generasi muda terhadap demokrasi, politik, dan hukum sebagai bagian penting dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Kegiatan tersebut dihadiri oleh Wali Kota Batam diwakili Kepala Kesbangpol Kota Batam, Riama Manurung, S.H., M.H. dengan menghadirkan dua narasumber yang kompeten di bidangnya, yakni Assoc. Prof. Dr. Alwan Hadiyanto, S.H., M.H., C.Med., C.CL. dan Priyo Handoko, S.A.P., M.A.. Diskusi berlangsung interaktif dengan dipandu moderator Dr. Seftia Azrianti, S.H., M.H..
Salah satu peserta kegiatan, Jonrius Sinurat, S.H., yang hadir sebagai perwakilan Pemuda Katolik Komisariat Cabang (Komcab) Kota Batam bersama kader Pemuda Katolik Mei Pramita Yanti Nainggolan, menilai kegiatan tersebut memberikan banyak wawasan baru mengenai pentingnya peran generasi muda dalam menjaga kualitas demokrasi dan supremasi hukum di Indonesia.
![]() |
| Foto: Alwan Hadiyanto saat menyampaikan materi. (dok/ist) |
Dalam pemaparannya, Alwan Hadiyanto menegaskan bahwa politik sejatinya tidak boleh dipandang sebagai sesuatu yang negatif. Menurutnya, politik merupakan instrumen penting untuk menghadirkan kebijakan yang berpihak pada kepentingan masyarakat.
“Politik yang sehat harus dipahami sebagai sarana memperjuangkan kebaikan bersama. Karena itu, generasi muda perlu membangun kesadaran untuk terlibat secara aktif dalam kehidupan demokrasi dengan tetap berpegang pada nilai moral dan etika,” ujarnya.
Selain itu, Alwan juga menekankan pentingnya pemahaman hukum bagi masyarakat, khususnya kalangan muda. Menurutnya, hukum merupakan fondasi yang menjaga ketertiban, keadilan, dan kepastian dalam kehidupan bermasyarakat sehingga perlu dipahami tidak hanya sebagai aturan dan sanksi, tetapi sebagai instrumen perlindungan bagi seluruh warga negara.
Sementara itu, Priyo Handoko mengingatkan bahwa tantangan demokrasi saat ini tidak hanya berkaitan dengan partisipasi pemilih, tetapi juga kemampuan masyarakat dalam menghadapi derasnya arus informasi di era digital.
Menurutnya, pendidikan politik harus berjalan seiring dengan peningkatan literasi digital dan kemampuan berpikir kritis agar masyarakat tidak mudah terpengaruh oleh informasi yang menyesatkan.
“Generasi muda harus menjadi kelompok yang mampu memilah informasi berdasarkan fakta dan sumber yang kredibel. Demokrasi yang berkualitas membutuhkan masyarakat yang cerdas dan kritis dalam menyikapi berbagai informasi yang beredar,” jelasnya.
Ia juga menjelaskan bahwa partisipasi politik tidak hanya dilakukan saat pemilu atau pilkada berlangsung. Keterlibatan masyarakat dapat diwujudkan melalui berbagai cara, mulai dari memberikan masukan terhadap kebijakan publik, aktif dalam organisasi kemasyarakatan, hingga melakukan pengawasan terhadap jalannya pemerintahan secara konstruktif.
![]() |
| Foto: Priyo Handoko saat menyampaikan materi. (dok/ist) |
Sebagai moderator, Dr. Seftia Azrianti berhasil menghidupkan suasana diskusi dengan berbagai pertanyaan yang mendorong peserta untuk berpikir kritis dan aktif berdialog dengan para narasumber.
Menurut Seftia, pendidikan politik memiliki peran penting dalam membangun budaya demokrasi yang sehat dan berkelanjutan. Ia berharap kegiatan serupa terus dilakukan agar semakin banyak generasi muda yang memahami hak, kewajiban, serta tanggung jawabnya sebagai warga negara.
Bagi Jonrius Sinurat, materi yang disampaikan para narasumber memiliki keterkaitan erat dengan nilai-nilai yang selama ini diajarkan dalam organisasi Pemuda Katolik. Nilai kejujuran, keadilan, solidaritas, penghormatan terhadap martabat manusia, dan keberpihakan pada kebaikan bersama dinilai sangat relevan untuk diterapkan dalam kehidupan politik maupun hukum.
“Melalui kegiatan ini saya semakin memahami bahwa generasi muda memiliki peran strategis dalam menjaga demokrasi dan penegakan hukum. Keterlibatan pemuda tidak semata-mata untuk mengejar kekuasaan, tetapi untuk menghadirkan nilai-nilai moral yang memberikan manfaat bagi masyarakat luas,” ungkap Jonrius.
Ia berharap semakin banyak kader Pemuda Katolik maupun organisasi kepemudaan lainnya yang berani mengambil peran dalam berbagai ruang pengabdian, baik di bidang sosial, hukum, pemerintahan, maupun politik.
Kegiatan sosialisasi tersebut diharapkan mampu melahirkan generasi muda yang tidak hanya kritis terhadap berbagai persoalan bangsa, tetapi juga mampu menjadi bagian dari solusi melalui keterlibatan aktif, berintegritas, dan berorientasi pada kepentingan masyarakat. (*/Red)
Editor: Js





















