![]() |
| Foto: Sinergitas Tiga Pilar Warnai Kirab 17 Gunungan Sayur Sambut Bulan Suro di Karangjati. (dok/ist) |
Cilacap, JejakSiber.com – Sinergitas Tiga Pilar Desa Karangjati, Kecamatan Sampang, Kabupaten Cilacap, kembali terlihat dalam pelaksanaan tradisi Kirab 17 Gunungan Sayur menyambut Bulan Suro sekaligus Ruwat Bumi, Kamis (2/7/2026). Kegiatan yang berlangsung sejak pukul 07.31 hingga 10.30 WIB tersebut menjadi simbol kuat kebersamaan antara pemerintah desa, TNI, Polri, dan masyarakat dalam menjaga kelestarian budaya sekaligus mempererat persatuan.
Hadir dalam kegiatan tersebut Kepala Desa Karangjati Suratno, Babinsa Desa Karangjati Koramil 07/Maos Serka Tofik, serta Bhabinkamtibmas Desa Karangjati Polsek Sampang Aiptu Kuswoto. Turut hadir pula Sekretaris Desa Doni Azis, perangkat desa, anggota BPD, tokoh agama, tokoh masyarakat, tokoh adat, tokoh pemuda, serta unsur Forkopimcam Sampang yang bersama-sama mengikuti rangkaian acara hingga selesai.
Tradisi Kirab 17 Gunungan Sayur merupakan agenda budaya tahunan masyarakat Desa Karangjati yang dikenal dengan sebutan Grebeg Suro, Suran, atau Bersih Desa. Tradisi ini menjadi bentuk ungkapan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas limpahan rezeki, hasil panen, serta harapan agar masyarakat senantiasa diberikan keselamatan, kemakmuran, dan keberkahan.
Rangkaian kegiatan diawali dari Balai Desa Karangjati. Sebanyak 17 gunungan yang dihias menggunakan aneka hasil pertanian seperti padi, sayuran, buah-buahan, dan berbagai hasil bumi lainnya diarak menuju Lapangan Sepak Bola Karangjati. Sepanjang perjalanan, kirab berlangsung meriah dengan iringan kesenian tradisional yang menambah semarak suasana dan menarik perhatian masyarakat yang memadati jalur kirab.
Gunungan yang diarak tersebut bukan sekadar hiasan, melainkan memiliki makna filosofis yang mendalam. Gunungan menjadi simbol kemakmuran, kerja keras para petani, kesuburan tanah, serta harapan agar hasil bumi masyarakat terus melimpah di masa mendatang.
Sesampainya di lokasi akhir, seluruh gunungan dikumpulkan di depan panggung utama untuk selanjutnya dilaksanakan doa bersama dan kenduri sebagai ungkapan syukur atas nikmat yang telah diberikan. Setelah prosesi doa selesai, masyarakat secara antusias memperebutkan isi gunungan yang diyakini membawa berkah dan keberuntungan bagi siapa saja yang mendapatkannya. Tradisi tersebut menjadi momen yang paling dinanti karena telah diwariskan secara turun-temurun sebagai bagian dari kearifan lokal masyarakat Karangjati.
Rangkaian kegiatan kemudian dilanjutkan dengan prosesi Ruwat Bumi pada siang harinya sebagai simbol permohonan keselamatan bagi desa, masyarakat, serta kelestarian alam yang menjadi sumber kehidupan warga.
Dalam kesempatan tersebut, Babinsa Desa Karangjati Serka Tofik menyampaikan bahwa Bulan Suro memiliki makna yang sangat penting bagi masyarakat Jawa. Menurutnya, momentum tersebut bukan sekadar pergantian penanggalan, tetapi menjadi saat yang tepat untuk melakukan introspeksi diri, mempererat tali persaudaraan, serta menjaga keharmonisan hubungan antara manusia, alam, dan budaya yang telah diwariskan para leluhur.
"Melalui kegiatan ini, kita tidak hanya melestarikan tradisi, tetapi juga memperkuat semangat gotong royong dan kebersamaan. Langkah demi langkah dalam kirab ini mengiringi doa, harapan, dan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa," ujar Serka Tofik.
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh masyarakat yang telah berpartisipasi aktif sehingga seluruh rangkaian kegiatan dapat berlangsung dengan aman, tertib, dan lancar.
"Terima kasih yang sebesar-besarnya kepada seluruh warga atas partisipasi, tenaga, dan waktunya. Kegiatan hari ini berjalan sukses berkat kerja sama semua pihak. Semoga kebersamaan ini terus terjaga dan menjadi kekuatan dalam membangun Desa Karangjati yang semakin maju, aman, dan harmonis," pungkasnya.
Pelaksanaan Kirab 17 Gunungan Sayur dan Ruwat Bumi ini menjadi bukti bahwa tradisi budaya lokal tetap hidup di tengah masyarakat serta mampu menjadi sarana memperkuat sinergi antara pemerintah, TNI, Polri, dan seluruh elemen masyarakat dalam menjaga persatuan, melestarikan budaya, sekaligus menanamkan nilai-nilai gotong royong kepada generasi penerus. (Hk)
Editor: Js



















