Header Ads Widget

Edo-Dora Satukan Cinta dan Dua Budaya

Foto: Prosesi acara pernikahan Edo dan Dora. (dok/ist/Jos)

Sorong, JejakSiber.com — Cinta menyatukan dua hati, sementara adat dan budaya mempererat dua keluarga. Itulah gambaran pernikahan Edo Jonathan Silaen, S.H. yang akrab disapa Edo Silaen, putra berdarah Batak asal Sumatera Utara, dengan Dora C.M. Asa Hotmauli Br. Simbolon, S.T. yang akrab disapa Dora, putri asal Nusa Tenggara Timur (NTT), yang resmi mengakhiri masa lajang dalam suasana penuh khidmat dan kekeluargaan.

Sebelum melangsungkan rangkaian acara adat, kedua mempelai terlebih dahulu menerima pemberkatan nikah di Gereja Syaloom Klademak, Kota Sorong pada Sabtu (10/10/2026). Pemberkatan dipimpin Ketua Jemaat Syaloom Klademak, Pdt. Lusiana Nanlohy, S.Th., M.Mis.
Foto: Prosesi acara pernikahan Edo dan Dora. (dok/ist/Jos)

Kebahagiaan kedua mempelai semakin terasa ketika keluarga besar dari kedua belah pihak berkumpul untuk menjalankan tradisi masing-masing. Perbedaan latar belakang budaya tidak menjadi penghalang, melainkan menghadirkan warna tersendiri dalam perayaan pernikahan tersebut.

Dalam rangkaian adat, keluarga Dora menjalankan tradisi belis yang dikenal dalam sejumlah masyarakat di NTT. Sementara itu, dari pihak keluarga Edo dilaksanakan prosesi mangain, yakni pengangkatan atau pemberian marga kepada mempelai perempuan menjadi bagian dari keluarga Batak bermarga Simbolon.
Foto: Prosesi acara pernikahan Edo dan Dora. (dok/ist/Jos)

Prosesi mangain memiliki makna penting dalam kehidupan adat Batak. Melalui prosesi ini, Dora diterima menjadi bagian dari keluarga besar bermarga Simbolon sehingga hubungan kekeluargaan antara kedua belah pihak semakin erat.

Keterlibatan keluarga besar dan berbagai unsur marga dalam rangkaian acara tersebut memperlihatkan bahwa pernikahan bukan hanya penyatuan dua insan, tetapi juga pertemuan dua keluarga dengan tradisi yang memiliki nilai luhur.

Suasana semakin meriah saat tradisi manortor atau tortor Batak ditampilkan. Gerakan tortor yang sarat makna penghormatan dan kebersamaan berpadu dengan suasana hangat ketika seluruh keluarga menikmati makan bersama.
Foto: Prosesi acara pernikahan Edo dan Dora. (dok/ist/Jos)

Perpaduan adat Batak dan NTT itu menjadi gambaran bahwa keberagaman budaya dapat berjalan beriringan dalam ikatan cinta, penghormatan, dan kekeluargaan.

Edo sendiri tengah menjalankan profesi sebagai pengacara di organisasi Perhimpunan Advokat Indonesia (PERADI), sedangkan Dora bekerja di Kantor Kejaksaan Negeri Sorong.

Pernikahan keduanya menjadi awal perjalanan baru untuk membangun rumah tangga, dengan harapan cinta, komitmen, dan nilai-nilai keluarga senantiasa menjadi fondasi dalam mengarungi kehidupan bersama. (Jos)
Editor: Js