![]() |
| Foto: Duka Dewi Sartika Berujung Laporan Dugaan Malapraktik. (dok/ist) |
Batam, JejakSiber.com — Kepergian Dewi Sartika Sitinjak, perempuan berusia 24 tahun asal Samosir, Sumatera Utara, menyisakan duka sekaligus pertanyaan bagi keluarga dan orang-orang terdekatnya di Batam.
Dewi mengembuskan napas terakhir di Rumah Sakit Awal Bros (RSAB) Botania, Senin (10/8/2026), setelah hampir 13 hari menjalani perawatan intensif. Kondisinya disebut memburuk setelah menjalani operasi ambeien di rumah sakit tersebut.
Kematian Dewi kini berujung pada laporan polisi terkait dugaan malapraktik. Keluarga melaporkan pihak rumah sakit ke Polresta Barelang pada Sabtu (8/8/2026) malam.
Berdasarkan rangkuman berita yang disadur dari TribunBatam.id, persoalan bermula ketika Dewi menjalani perawatan di RSAB Botania pada Senin (27/7/2026). Sehari kemudian, Selasa (28/7/2026) sekitar pukul 19.00 WIB, Dewi menjalani operasi.
Menurut keterangan kekasihnya, Ando Jaya Samosir, tindakan operasi berlangsung lebih dari dua jam. Setelah operasi selesai, kondisi Dewi sempat terlihat baik.
Sekitar pukul 21.30 WIB, Dewi masih dapat berkomunikasi dan disebut tidak mengeluhkan rasa sakit.
Ando bahkan sempat berkomunikasi dengan Dewi dan menanyakan kondisinya. Saat itu, Dewi disebut masih responsif.
Kondisi tersebut kemudian berubah beberapa jam berselang.
Setelah diperbolehkan makan dengan anjuran menghindari makanan pedas, Dewi memilih menyantap sup. Sekitar pukul 23.30 WIB, seorang perawat memberikan suntikan melalui jalur infus.
Menurut Ando, setelah suntikan tersebut Dewi mulai merasakan sakit. Ia bahkan sempat mencengkeram tangan kekasihnya.
Kepada perawat, Dewi disebut sempat mengeluhkan rasa sakit yang dirasakannya. Namun, menurut Ando, keluhan tersebut dijelaskan sebagai efek obat.
Tidak lama kemudian, Dewi kembali mendapatkan suntikan melalui jalur infus.
Menurut penjelasan yang diterima keluarga, obat tersebut diberikan untuk membantu mengatasi nyeri dan peradangan serta mencegah perdarahan.
Namun, setelah pemberian obat berikutnya, kondisi Dewi disebut semakin memburuk. Ia mengalami mual, kemudian kejang dan akhirnya kehilangan kesadaran sekitar pukul 23.45 WIB.
Petugas medis kemudian melakukan tindakan pertolongan, termasuk pompa jantung secara manual maupun menggunakan alat. Dewi selanjutnya dipindahkan ke ruang ICU.
Sejak dipindahkan ke ICU sekitar pukul 01.00 WIB pada 29 Juli, Dewi disebut tidak kembali memberikan respons hingga akhirnya dinyatakan meninggal dunia pada 10 Agustus.
Keluarga Pertanyakan Penanganan Medis
Kondisi Dewi yang berubah drastis setelah operasi menjadi perhatian keluarga.
Kuasa hukum keluarga, Jendris Sihombing, S.H., M.H., mengatakan pihak keluarga ingin memperoleh penjelasan menyeluruh mengenai proses penanganan medis yang diterima Dewi setelah operasi hingga kondisinya memburuk.
Menurut Jendris, terdapat sejumlah hal yang dipertanyakan keluarga, termasuk pemberian beberapa dosis suntikan setelah operasi.
"Dua jam setelah operasi, pihak rumah sakit memberikan pasien tiga dosis suntikan. Dua dosis disuntik melalui tangan, dan satu dosis dicampurkan ke dalam botol infus," ujar Jendris, sebagaimana dikutip dari TribunBatam.id.
Keterangan tersebut menjadi bagian dari persoalan yang ingin didalami keluarga melalui proses hukum.
Untuk memastikan penyebab kematian, jenazah Dewi direncanakan menjalani autopsi di RS Bhayangkara sebelum dipulangkan ke kampung halamannya di Pulau Samosir.
Autopsi diharapkan dapat memberikan gambaran objektif mengenai penyebab kematian serta membantu menjawab berbagai pertanyaan yang kini muncul di tengah keluarga.
Polisi Diminta Mengusut Secara Terang
Laporan dugaan malapraktik yang disampaikan keluarga menjadi pintu masuk untuk menguji seluruh rangkaian penanganan medis yang diterima Dewi.
Namun, dugaan tersebut tetap harus dibuktikan melalui penyelidikan, pemeriksaan medis, keterangan para pihak, serta bukti-bukti lain yang sah. Tidak tepat untuk menyimpulkan adanya malapraktik sebelum proses hukum dan pemeriksaan medis memberikan kepastian.
Di sisi lain, keluarga berharap proses tersebut berjalan transparan agar tidak ada pertanyaan yang menggantung mengenai penyebab meninggalnya Dewi.
Hingga berita ini diterbitkan, media ini masih berupaya melakukan konfirmasi kepada pihak RS Awal Bros terkait peristiwa tersebut, termasuk mengenai kronologi penanganan medis dan tudingan yang disampaikan keluarga.
Enam Tahun Merantau di Batam
Di balik persoalan hukum yang kini bergulir, Dewi dikenang sebagai sosok perantau yang selama sekitar enam tahun membangun kehidupannya di Batam.
Dewi tinggal di dormitory Batamindo, Mukakuning, dan bekerja di perusahaan manufaktur komponen elektronik yang sebelumnya dikenal sebagai PT Schneider dan kini bernama PT Yageo.
Selain bekerja, Dewi juga berusaha melanjutkan pendidikan.
Rekan-rekannya mengenang Dewi sebagai perempuan yang mudah bergaul, ceria dan gemar bercanda.
Delia, salah seorang rekan satu dormitory, mengaku masih sulit menerima kabar meninggalnya Dewi.
Menurut Delia, Dewi merupakan pribadi yang rendah hati dan tidak pernah memiliki masalah dengan lingkungan sekitarnya.
Dewi dan Delia juga bekerja di perusahaan yang sama meski berada di departemen berbeda.
Kabar meninggalnya Dewi membuat sejumlah rekan kerja dan penghuni dormitory mendatangi RSAB Botania. Mereka datang bukan lagi untuk menemani Dewi menjalani aktivitas seperti sebelumnya, melainkan memberikan penghormatan terakhir.
Kini, jenazah Dewi menunggu proses autopsi sebelum dipulangkan ke Samosir.
Sementara itu, laporan keluarga mengenai dugaan malapraktik telah disampaikan kepada kepolisian. Proses penyelidikan diharapkan mampu mengungkap secara terang apa yang sebenarnya terjadi sejak Dewi menjalani operasi hingga akhirnya kehilangan kesadaran dan meninggal dunia.
Peristiwa ini sekaligus menyisakan satu pertanyaan penting yang kini menunggu jawaban melalui proses medis dan hukum: apa yang sebenarnya menyebabkan kondisi Dewi memburuk setelah operasi hingga akhirnya kehilangan nyawa?. (*)
Editor: Js



















