Header Ads Widget

Stella Maris Batam Soroti Perlindungan ABK dan Tata Kelola Migrasi Maritim

Foto: Ilustrasi. (dok/ist)

Batam, JejakSiber.com — Stella Maris Batam akan menggelar Seminar Internasional dan Misa Hari Minggu Migran dan Pengungsi 2026 dengan mengangkat persoalan perlindungan pekerja migran maritim, khususnya Anak Buah Kapal (ABK) dan Awak Kapal Perikanan (AKP).

Kegiatan tersebut dijadwalkan berlangsung pada Minggu, 20 September 2026, di Pacific Palace Hotel, Batam. Agenda ini menjadi bagian dari rangkaian peringatan Hari Minggu Migran dan Pengungsi Sedunia ke-112 Tahun 2026 yang secara universal diperingati pada 27 September 2026.

Informasi tersebut dilansir media ini dari situs resmi Stella Maris Batam, stellamaris.id, yang dipublikasikan pada 25 Agustus 2026.

Foto: Flyer seminar. (dok/ist/sm)

Seminar mengusung tema “Dari Kerentanan Menuju Martabat: Mewujudkan Migrasi yang Aman dan Teratur.” Tema tersebut menjadi pijakan Stella Maris Batam untuk melihat persoalan migrasi tidak hanya sebagai persoalan perpindahan atau mobilitas tenaga kerja, tetapi sebagai persoalan kemanusiaan yang berkaitan erat dengan kehidupan, keluarga, hak, keselamatan serta masa depan para pekerja.

Tema tersebut juga memiliki relevansi kuat dengan kehidupan pekerja maritim. Lebih dari 80 persen perdagangan barang dunia berdasarkan volume diangkut melalui jalur laut. Di balik aktivitas perdagangan global itu terdapat jutaan pekerja maritim yang bekerja di atas kapal, jauh dari keluarga dan lingkungan sosial mereka.

Para pekerja tersebut memiliki peran penting dalam memastikan rantai pasok dunia tetap berjalan. Namun, pekerjaan di laut juga membawa berbagai risiko, mulai dari kondisi cuaca, keselamatan kerja, keterpisahan dari keluarga hingga persoalan perlindungan hak sebagai pekerja.

Stella Maris Batam menilai kondisi tersebut membuat persoalan migrasi tidak dapat dilepaskan dari isu martabat manusia, keselamatan dan perlindungan pekerja.

Perhatian khusus dalam seminar diarahkan kepada ABK dan AKP yang bekerja lintas wilayah maupun negara.

Kelompok pekerja maritim tersebut menghadapi karakteristik kerentanan yang berbeda dibandingkan pekerja pada umumnya. Mereka dapat berhadapan dengan proses perekrutan yang kompleks, keterbatasan informasi, persoalan kontrak kerja, biaya perekrutan dan penempatan, hingga potensi eksploitasi serta perdagangan orang.

Menurut Stella Maris Batam, mewujudkan migrasi yang aman tidak cukup hanya memastikan seseorang dapat berangkat bekerja melalui jalur legal.

Sistem migrasi yang aman juga harus memberikan jaminan agar proses perekrutan berlangsung transparan, biaya dapat dipertanggungjawabkan, kontrak kerja dipahami oleh pekerja, hak-hak pekerja dihormati, serta tersedia mekanisme perlindungan dan pertolongan ketika pekerja menghadapi persoalan.

“Kami ingin melihat pekerja migran maritim bukan hanya sebagai bagian dari industri, tetapi pertama-tama sebagai manusia yang memiliki martabat. Mereka bekerja jauh dari keluarga dan berkontribusi terhadap kehidupan ekonomi kita. Karena itu, sistem yang mengatur mereka harus mampu memberikan kepastian, perlindungan dan ruang untuk mendapatkan pertolongan ketika menghadapi persoalan,” ujar Direktur Stella Maris Batam, Romo Ansensius Guntur, CS.

Seminar juga akan membahas persoalan cost structure dalam proses perekrutan dan penempatan pekerja maritim.

Sejumlah komponen biaya, seperti sertifikasi, pemeriksaan kesehatan, pelatihan, dokumen, perjalanan, administrasi dan kebutuhan lainnya, dapat menjadi bagian dari keseluruhan biaya penempatan pekerja.

Melalui forum tersebut, Stella Maris Batam ingin mendorong pembahasan mengenai bagaimana struktur biaya dapat dibuat lebih transparan, efisien dan berkeadilan sehingga calon pekerja tidak semakin berada dalam posisi rentan.

Selain persoalan biaya, seminar juga akan membawa gagasan mengenai Port Welfare Committee sebagai salah satu kemungkinan mekanisme koordinasi lintas pemangku kepentingan di Batam.

Forum internasional tersebut direncanakan menghadirkan sejumlah tokoh dan pemangku kepentingan dari berbagai sektor. Sebagai keynote speaker, panitia menjadwalkan kehadiran Menteri Pelindungan Pekerja Migran Indonesia Drs. Mukhtarudin, Mgr. Prof. Dr. Adrianus Sunarko, OFM, Uskup Pangkalpinang, serta Mgr. Siprianus Hormat, Ketua Komisi Keadilan, Perdamaian, Migran dan Perantau (KKP-PMP) KWI.

Diskusi panel juga akan menghadirkan sejumlah narasumber dari berbagai latar belakang, antara lain Jessica Sparks dari Tufts University, Amerika Serikat; Rinardi dari KP2MI; Yulius Setiarto dari DPR RI; Albert Yosua Bonasahat dari ILO Indonesia; Shafira Ayunindya dari IOM Indonesia; Ilyas Pangestu dari SPPI; Hengky Wijaya dari Asosiasi Agen Perekrut; Wahyu Susilo dari Migrant CARE; Romo Chrisanctus Paschalis dari KKPPMP Keuskupan Pangkalpinang; serta Romo Ansensius Guntur CS dari Stella Maris.

Selain seminar, rangkaian kegiatan juga akan diisi dengan Misa Hari Minggu Migran dan Pengungsi 2026. Misa tersebut akan dipimpin Mgr. Prof. Dr. Adrianus Sunarko, OFM, Uskup Pangkalpinang, bersama Mgr. Siprianus Hormat dan para imam di Kevikepan Kepri.

Peringatan tahun ini secara universal mengangkat pesan Paus Leo XIV dengan tema “Even Just One of These Children”, yang memberikan perhatian khusus terhadap anak-anak yang mengalami pengalaman migrasi dan pengungsian.

Ketua Panitia kegiatan, Cosmas Eko Suharyanto, mengatakan kegiatan tersebut diperkirakan akan diikuti sekitar 1.500 peserta dari berbagai latar belakang.

“Peserta diperkirakan 1500 orang terdiri dari berbagai latar belakang; serikat pekerja, migran, keluarga pelaut, organisasi lintas iman, aktivis kemanusiaan, para pekerja asing yang ada di Batam, dan masih banyak lagi,” kata Cosmas.

Melalui kegiatan tersebut, Stella Maris Batam berharap isu migrasi dapat dilihat secara lebih utuh, bukan semata dari sisi kebutuhan tenaga kerja dan kepentingan industri, tetapi juga dari sisi kemanusiaan.

Dengan demikian, upaya membangun tata kelola migrasi yang aman dan teratur diharapkan berjalan beriringan dengan penghormatan terhadap martabat, keselamatan dan hak setiap pekerja migran, termasuk mereka yang bekerja di sektor maritim. (*/Hotman)

Editor: Js