![]() |
| Foto: Tangkapan layar video yang beredar di media sosial. (dok/ist) |
Tangerang, JejakSiber.com — Sebuah video yang memperlihatkan pembubaran kegiatan ibadah jemaat Gereja Kristen Protestan Indonesia (GKPI) Mauk-Sepatan, Kabupaten Tangerang, Banten, viral di media sosial. Rekaman tersebut memperlihatkan ketegangan antara sejumlah orang dengan jemaat saat kegiatan ibadah berlangsung, Minggu (20/9/2026).
Dalam video berdurasi sekitar 2 menit 20 detik yang beredar luas di media sosial, terlihat seorang pria mengenakan pakaian berwarna abu-abu dan peci terlibat perdebatan dengan sejumlah orang di sekitar lokasi. Pria tersebut tampak membawa senjata tajam jenis golok/parang.
Sempat terdengar salah satu orang dalam video meminta agar permasalahan tersebut dibicarakan baik-baik, namun pria yang meminta agar kegiatan tersebut ditutup menolak dan tetap tegas meminta ditutup.
"Tutup! Saya gak mau baik-baik, tutup! Kalau tidak mau ditutup, pertumpahan darah kita di dalam, saya tidak takut mati, saya tidak takut mati... Demi Allah saya tidak takut mati," ujar pria tersebut dalam video yang beredar.
Pada bagian lain video, pria tersebut terlihat mengacungkan senjata tajam ke arah dinding bangunan. Sejumlah warga kemudian berada di lokasi dan berusaha meredam ketegangan yang terjadi.
Video tersebut juga memperlihatkan beberapa orang lain berada di sekitar pria tersebut. Situasi tampak tegang hingga akhirnya massa bergerak meninggalkan area sekitar tempat ibadah.
Informasi yang beredar menyebutkan peristiwa tersebut terjadi ketika jemaat GKPI Mauk-Sepatan sedang melaksanakan ibadah Minggu di kawasan Jalan Raya Mekarsari, Desa Mekarsari, Kecamatan Rajeg, Kabupaten Tangerang.
Sejumlah laporan media menyebut kegiatan ibadah awalnya berlangsung sekitar pukul 10.00 WIB. Sekitar pukul 10.30 WIB, sekelompok orang datang dan meminta kegiatan ibadah dihentikan. Dalam kronologi yang disampaikan pihak jemaat kepada sejumlah media, terdapat orang yang membawa senjata tajam berupa golok atau parang.
Situasi yang semula berlangsung tertib kemudian berubah tegang. Jemaat disebut meninggalkan lokasi sebelum rangkaian ibadah selesai.
Laporan lain menyebut tempat yang digunakan jemaat untuk beribadah merupakan sebuah rumah sewaan. Kapolsek Rajeg AKP Yono Taryono menyampaikan bahwa setelah kejadian, pihak-pihak yang berselisih telah dipertemukan untuk membicarakan persoalan yang melatarbelakangi insiden tersebut. Polisi menyebut situasi di lokasi kemudian kondusif.
Bukan Sekadar Persoalan Keributan
Peristiwa tersebut menjadi sorotan karena terjadi ketika kegiatan ibadah sedang berlangsung dan dalam video tampak adanya senjata tajam.
Jika keberadaan senjata tajam dan tindakan intimidatif sebagaimana terlihat dalam video benar adanya, persoalan tersebut tidak semestinya dipandang hanya sebagai perselisihan antarwarga. Aparat penegak hukum perlu memastikan secara objektif apa yang sebenarnya terjadi, siapa saja yang terlibat, serta apakah terdapat dugaan tindak pidana dalam peristiwa tersebut.
Di sisi lain, persoalan mengenai penggunaan rumah sebagai tempat ibadah juga perlu ditempatkan dalam mekanisme hukum dan administrasi yang berlaku. Persoalan administratif tidak semestinya diselesaikan dengan tindakan intimidasi atau kekerasan.
Staf Khusus Menteri Agama RI, Gugun Gumilar, turun langsung ke lokasi pada Minggu (20/9/2026) dan melakukan dialog bersama unsur pemerintah daerah, aparat keamanan, tokoh masyarakat serta pengurus gereja.
Dalam proses tersebut, akses ke tempat ibadah disebut kembali dibuka setelah gembok yang sebelumnya dipersoalkan dikembalikan. Pemerintah juga mendorong agar persoalan administratif dibahas melalui pemerintah daerah dan diselesaikan dengan musyawarah.
Sementara itu, polisi menyatakan kedua pihak telah dipertemukan dalam proses mediasi. Langkah tersebut dilakukan untuk menjaga situasi tetap aman dan mengurai persoalan yang menjadi latar belakang konflik.
Peristiwa ini sekaligus menjadi pengingat bahwa persoalan rumah ibadah harus diselesaikan melalui jalur hukum, dialog dan mekanisme pemerintahan yang berlaku, bukan melalui tekanan massa.
Terlebih, ketika sebuah kegiatan ibadah sedang berlangsung, aspek keamanan jemaat juga menjadi bagian penting yang harus mendapatkan perhatian.
Hingga berita ini disusun, informasi mengenai motif pasti kedatangan kelompok tersebut, identitas seluruh orang yang terlibat serta status hukum dugaan penggunaan senjata tajam masih menunggu penjelasan lebih lanjut dari aparat berwenang.
Redaksi masih berupaya melakukan konfirmasi kepada pihak-pihak terkait untuk memperoleh informasi yang lebih utuh dan berimbang. Hak jawab dan klarifikasi terbuka bagi seluruh pihak yang berkepentingan. (*)
Editor: Js



















