![]() |
| Foto: Ilustrasi. (dok/ist) |
Jakarta, JejakSiber.com – Harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) masih bergerak volatil di tengah ketidakpastian konflik Amerika Serikat (AS) dan Iran serta perkembangan pembukaan kembali Selat Hormuz. Di tengah dukungan sentimen geopolitik terhadap harga minyak, analisis teknikal Dupoin Futures melihat peluang koreksi WTI dalam perdagangan Selasa (29/9/2026).
Dupoin Futures menilai harga WTI pada timeframe harian belum mampu menembus sekaligus ditutup di atas zona supply 96,50–99,06. Kondisi tersebut dinilai menjadi salah satu sinyal bahwa tekanan jual masih berpotensi berlanjut.
Apabila tekanan jual menguat, WTI berpeluang membentuk pola ABC Correction dengan sasaran penurunan menuju zona support 88,67–86,61.
Analis Dupoin Futures, Geraldo Kofit, mengatakan zona supply 96,50–99,06 menjadi area penting yang perlu dicermati pelaku pasar untuk melihat arah pergerakan WTI selanjutnya.
“Selama harga belum mampu menembus dan bertahan di atas zona tersebut, peluang terjadinya koreksi penurunan masih terbuka,” demikian analisis Dupoin Futures.
Pola ABC Correction menjadi salah satu perhatian dalam analisis teknikal tersebut. Pola ini menggambarkan potensi koreksi harga setelah terjadi pergerakan sebelumnya. Jika tekanan jual semakin kuat, WTI berpotensi bergerak menuju area support 88,67–86,61.
Namun, potensi pelemahan secara teknikal berlangsung ketika faktor fundamental masih memberikan dukungan terhadap harga minyak. Kekhawatiran mengenai gangguan pasokan dari Timur Tengah akibat konflik AS-Iran membuat harga minyak naik untuk sesi kedua berturut-turut.
Mengacu pada laporan Reuters yang dikutip dalam rilis Dupoin Futures, WTI naik sekitar 0,8 persen menjadi US$93,32 per barel, sedangkan Brent meningkat 0,6 persen menjadi US$105,91 per barel.
Ketidakpastian terkait pembukaan kembali Selat Hormuz juga menjadi salah satu faktor yang menjaga premi risiko di pasar minyak. Selat tersebut merupakan jalur penting perdagangan energi global sehingga gangguan terhadap arus pengiriman berpotensi memengaruhi pasokan dan harga minyak.
Di sisi lain, terdapat indikasi pemulihan sebagian arus ekspor minyak dari kawasan Timur Tengah. Reuters mencatat ekspor minyak dari produsen utama kawasan tersebut mencapai sekitar 12,8 juta barel per hari pada September, level tertinggi sejak Februari.
Meski demikian, kondisi logistik dan biaya pengiriman masih menjadi tantangan sehingga arus pasokan belum sepenuhnya kembali normal.
Pergerakan WTI pun berada di antara dua sentimen utama. Risiko gangguan pasokan dan ketidakpastian negosiasi AS-Iran dapat mempertahankan harga pada level tinggi, sementara pemulihan ekspor berpotensi membatasi penguatan lebih lanjut.
Upaya diplomatik melalui mediator Qatar juga masih berlangsung. Namun, berdasarkan laporan Reuters yang dikutip Dupoin Futures, belum terdapat kepastian mengenai kesepakatan untuk mengakhiri konflik dan membuka kembali Selat Hormuz.
Dupoin Futures menilai perkembangan geopolitik tetap menjadi katalis penting bagi volatilitas harga WTI. Sementara dari sisi teknikal, kegagalan menembus zona supply 96,50–99,06 membuat skenario koreksi masih perlu diperhatikan.
Dengan demikian, selama WTI belum mampu menembus dan bertahan di atas zona supply tersebut, terdapat potensi pergerakan menuju area support 88,67–86,61 apabila tekanan jual berlanjut.
Perkembangan konflik dan negosiasi AS-Iran, kondisi Selat Hormuz, serta pemulihan ekspor minyak Timur Tengah menjadi sejumlah faktor yang akan diperhatikan pasar dalam menentukan arah pergerakan WTI berikutnya.
Catatan: Analisis dan proyeksi harga dalam berita ini merupakan pandangan Dupoin Futures dan bukan kepastian pergerakan pasar. Harga komoditas dapat berubah mengikuti kondisi pasar dan berbagai faktor fundamental maupun teknikal. (*)
Editor: Js



















