Oleh: Jonrius Sinurat, S.H.
Batam, JejakSiber.com - Pendidikan bukan hanya tentang mengejar gelar, melainkan tentang memperluas cara berpikir, menemukan jati diri, dan mempersiapkan kehidupan yang lebih baik.
Pernahkah kita bertanya kepada diri sendiri, mengapa harus terus sekolah jika sudah bisa bekerja? Untuk apa mengejar gelar sarjana jika tanpa gelar pun seseorang bisa menghasilkan uang? Lalu, apakah melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi masih relevan bagi mereka yang sudah berkeluarga, memiliki tanggung jawab ekonomi, bahkan merasa usianya tidak lagi muda?
Pertanyaan-pertanyaan itu bukan sesuatu yang keliru. Justru, pertanyaan tersebut layak direnungkan, terutama oleh mereka yang sedang berjuang memenuhi kebutuhan hidup, membiayai keluarga, mencari pekerjaan, atau berusaha menemukan arah kehidupannya.
Bagi sebagian orang, sekolah mungkin dianggap selesai ketika ijazah terakhir diterima dan pekerjaan sudah didapatkan. Setelah itu, kehidupan berjalan sebagaimana mestinya: bekerja, mencari nafkah, menikah, membesarkan anak, membayar kebutuhan rumah tangga, dan menghadapi berbagai persoalan yang datang silih berganti.
Namun, apakah kehidupan hanya sebatas itu? Apakah setelah seseorang memperoleh pekerjaan, ia tidak lagi membutuhkan ilmu pengetahuan? Apakah ketika seseorang telah merasa cukup dengan kehidupannya hari ini, ia tidak perlu lagi mengembangkan kemampuan dirinya?
Menurut saya, pendidikan tidak seharusnya dipandang sesempit itu. Sekolah memang memiliki jenjang dan batas waktu tertentu, tetapi proses belajar seharusnya tidak pernah benar-benar berhenti selama manusia masih memiliki kesempatan untuk berkembang.
Berangkat dari Keterbatasan, Bukan dari Kemewahan
Saya, Jonrius Sinurat, lahir di Balam, Kabupaten Rokan Hilir, Provinsi Riau, pada tahun 1985. Saya menyelesaikan pendidikan sekolah dasar pada 1999 dan sekolah menengah pertama pada 2002 di tanah kelahiran saya, kemudian lulus SMK Teknik Mesin Industri di Simpang Kawat, Kabupaten Asahan, Sumatera Utara, pada 2005.
Saat menamatkan SMK, saya merasa bekal pendidikan tersebut sudah cukup untuk merantau dan mencari pekerjaan di Batam. Saat itu, pikiran saya sederhana: yang terpenting adalah mendapatkan pekerjaan, memperoleh penghasilan, dan membangun kehidupan.
Saya tidak pernah membayangkan bahwa suatu hari nanti saya akan kembali duduk di bangku kuliah, menyusun skripsi, mengikuti sidang akademik, meraih gelar Sarjana Hukum, mengikuti pendidikan profesi advokat, hingga kembali menjadi mahasiswa pada jenjang magister ilmu hukum.
Perjalanan hidup membawa saya melewati berbagai pekerjaan. Saya pernah menjadi buruh kasar, petugas keamanan atau satpam, tukang ojek, penagih kredit, pekerja proyek, pekerja instalasi listrik, mitra survei riset, hingga credit marketing officer di perusahaan pembiayaan.
Berbagai pekerjaan itu memberikan pengalaman yang tidak selalu bisa ditemukan di ruang kelas. Saya belajar menghadapi karakter manusia yang berbeda-beda, memahami kesulitan ekonomi, merasakan kerasnya persaingan mencari nafkah, dan menyaksikan bahwa setiap orang memiliki perjuangannya sendiri.
Dari perjalanan itu, saya memahami bahwa bekerja adalah bagian penting dari kehidupan. Namun, saya juga menyadari bahwa pengalaman kerja saja tidak selalu cukup untuk menjawab seluruh persoalan yang akan kita hadapi. Ada pengetahuan yang harus terus dipelajari, ada kemampuan yang perlu dikembangkan, dan ada wawasan yang harus diperluas.
Sebab, kehidupan terus berubah. Tantangan hari ini belum tentu sama dengan tantangan sepuluh tahun mendatang.
Ketika Kesempatan Datang, Keberanian Harus Mengikutinya
Pada awal 2017, seorang teman mengajak saya menekuni profesi jurnalis. Sejujurnya, saya tidak percaya diri. Saya tidak memiliki latar belakang pendidikan jurnalistik dan belum memahami seluk-beluk dunia pers.
Namun, tuntutan kehidupan membuat saya berani mencoba. Bersama istri dan anak-anak, saya harus terus berjuang memenuhi kebutuhan rumah tangga. Saya pun memulai perjalanan sebagai wartawan sebuah tabloid mingguan yang berkantor di Jakarta dengan tanggung jawab sebagai kepala biro di Kota Batam.
Saya belajar dari awal. Saya mempelajari cara menulis berita, memahami kode etik jurnalistik, mengenali prinsip-prinsip kerja pers, dan mendalami Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers. Sebagian besar proses itu saya jalani secara otodidak, melalui pengalaman, membaca, berdiskusi, dan menerima koreksi.
Seiring waktu, saya memperoleh kesempatan bekerja di media daring berskala nasional. Saya mendapatkan banyak pengalaman dari pemimpin redaksi yang bersedia berbagi ilmu, memperluas relasi, mengikuti pelatihan jurnalistik, hingga mendapatkan kepercayaan untuk melakukan peliputan khusus dalam perkara besar di pengadilan.
Dari sana, saya belajar satu hal penting: ketika kita bersedia belajar, pengalaman dapat menjadi guru; ketika kita bersedia dibimbing, orang lain dapat menjadi jembatan menuju pengetahuan yang lebih luas.
Saya juga menyadari bahwa keberanian memulai sesuatu memang penting, tetapi keberanian saja tidak cukup. Kita membutuhkan pengetahuan, kedisiplinan, kemampuan beradaptasi, dan kemauan untuk terus memperbaiki diri.
Kesempatan terkadang datang tanpa kita rencanakan. Akan tetapi, kesiapan untuk memanfaatkan kesempatan itu harus kita bangun sendiri.
Kehilangan Ayah dan Kesadaran untuk Berdiri di Atas Kaki Sendiri
Pada Juli 2021, ayah saya meninggal dunia setelah bertahun-tahun berjuang melawan penyakit. Kepergiannya menjadi salah satu peristiwa paling berkesan dalam perjalanan hidup saya.
Bagi saya, ayah bukan sekadar orang tua. Ia adalah sosok yang selama ini menjadi motivasi dan sumber semangat dalam menjalani kehidupan.
Ketika kembali ke Batam setelah prosesi pemakaman di Balam, saya mulai merenungkan banyak hal. Saya menyadari bahwa kehidupan harus terus berjalan. Saya tidak bisa selamanya bergantung pada keberadaan seseorang yang selama ini menjadi sumber kekuatan bagi saya.
Saya harus belajar berdiri di atas kaki sendiri, mengambil keputusan dengan lebih matang, dan bertanggung jawab atas masa depan keluarga.
Pada Agustus 2021, saya mulai membangun portal media daring. Sebulan kemudian, saya mengambil langkah berikutnya dengan mendirikan perusahaan pers untuk menopang pengelolaan media tersebut. Saya berusaha melengkapi administrasi dan legalitas perusahaan, membangun sistem kerja, serta mengembangkan jangkauan media hingga ke tanah kelahiran saya di Kabupaten Rokan Hilir.
Saya tidak mengatakan bahwa seluruh keputusan itu selalu mudah atau selalu berjalan sesuai harapan. Ada risiko, keterbatasan, dan ketidakpastian yang harus dihadapi.
Namun, dari perjalanan tersebut, saya belajar bahwa kemandirian bukan berarti kita sudah mengetahui segalanya. Kemandirian justru menuntut kita untuk terus belajar agar keputusan yang kita ambil semakin bertanggung jawab.
Rasa Minder yang Berubah Menjadi Motivasi
Seiring berkembangnya media yang saya kelola, semakin banyak orang dari berbagai daerah bergabung. Di antara mereka terdapat orang-orang dengan latar belakang pendidikan sarjana, bahkan magister.
Di tengah perjalanan itu, saya pernah merasa minder. Saya hanya lulusan SMK, tetapi harus memimpin dan bekerja bersama orang-orang yang memiliki jenjang pendidikan lebih tinggi.
Saya tidak menganggap pendidikan sebagai ukuran mutlak kemampuan seseorang. Saya memahami bahwa banyak orang yang tidak berkesempatan mengenyam pendidikan tinggi, tetapi memiliki keterampilan, pengalaman, integritas, dan kemampuan luar biasa.
Namun, saya juga tidak ingin terus menjadikan keterbatasan pendidikan sebagai alasan untuk tidak berkembang.
Akhirnya, pada 2022, saya memutuskan melanjutkan pendidikan ke jenjang sarjana dengan memilih program studi Ilmu Hukum di salah satu perguruan tinggi swasta di Batam.
Keputusan itu bukan keputusan yang ringan. Saya harus menjalankan tanggung jawab sebagai suami dan ayah, mengelola perusahaan pers, memimpin media, serta mengikuti proses perkuliahan.
Waktu harus dibagi. Tenaga harus diatur. Prioritas harus ditentukan. Ada tugas kuliah yang harus diselesaikan di tengah kesibukan pekerjaan, ada kebutuhan keluarga yang tidak boleh diabaikan, dan ada tanggung jawab profesional yang tetap harus dijalankan.
Tetapi saya mencoba menjalaninya dengan keyakinan bahwa pendidikan adalah investasi jangka panjang bagi diri sendiri.
Ketika memasuki semester kedua, saya mulai merasakan sesuatu yang berbeda. Saya tidak lagi memandang kuliah hanya sebagai kewajiban untuk memperoleh ijazah. Saya justru semakin tertarik mempelajari hukum, memahami persoalan masyarakat, mengembangkan cara berpikir, dan melihat berbagai peristiwa dari sudut pandang akademis.
Saya mulai merasakan bahwa belajar bukan semata-mata tentang mendapatkan nilai. Belajar adalah proses memperbarui diri.
Pada Februari 2026, setelah tujuh semester, saya berhasil menyelesaikan pendidikan sarjana melalui sidang skripsi dan memperoleh gelar Sarjana Hukum. Pada April 2026, saya mengikuti wisuda bersama keluarga yang datang dari Balam untuk memberikan dukungan moral.
Bagi saya, kehadiran ibu, saudara, dan keluarga dalam momen itu memiliki arti yang mendalam. Mereka bukan sekadar menyaksikan seseorang menerima gelar akademik, melainkan menyaksikan sebuah perjuangan yang dijalani di tengah berbagai tanggung jawab kehidupan.
Setelah wisuda, saya menyempatkan diri berziarah ke makam ayah di Balam. Dalam perenungan itu, saya kembali mengingat perjalanan panjang yang telah saya lalui.
Saya tidak dapat lagi berbagi kabar secara langsung dengannya. Namun, saya ingin terus menjalani kehidupan dengan membawa nilai-nilai perjuangan yang selama ini menjadi bagian dari motivasi saya.
Bagi saya, pendidikan yang berhasil dituntaskan bukanlah alasan untuk merasa lebih tinggi daripada orang lain. Sebaliknya, pendidikan seharusnya membuat seseorang semakin memahami keterbatasan dirinya dan semakin bersedia belajar dari orang lain.
Tidak Berhenti pada Gelar Sarjana
Setelah menyelesaikan pendidikan sarjana, saya mengikuti Pendidikan Khusus Profesi Advokat (PKPA) dan Ujian Profesi Advokat (UPA) pada 2026. Saya dinyatakan lulus dalam ujian tersebut.
Namun, keinginan belajar tidak berhenti di situ.
Pada September 2026, saya kembali mendaftar untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang Magister Ilmu Hukum di salah satu perguruan tinggi swasta di Medan, Sumatera Utara. Setelah melalui proses verifikasi berkas dan asesmen, saya dinyatakan diterima dan pada Oktober 2026 kembali menjalani kehidupan akademik sebagai mahasiswa pascasarjana.
Keputusan melanjutkan pendidikan magister bukan berarti saya memiliki kekayaan berlimpah atau kondisi finansial yang selalu lapang. Saya tetap memahami bagaimana rasanya menjalani tanggung jawab keluarga, pekerjaan, dan berbagai kebutuhan hidup dengan sumber daya yang harus diperhitungkan.
Karena itu, saya tidak ingin menjadikan perjalanan pribadi ini sebagai ukuran yang harus dipaksakan kepada semua orang. Setiap orang memiliki kondisi, kemampuan, prioritas, dan kesempatan yang berbeda.
Saya hanya ingin menyampaikan bahwa keterbatasan tidak seharusnya langsung dianggap sebagai akhir dari sebuah cita-cita. Keterbatasan memang nyata dan harus diperhitungkan, tetapi kita juga perlu mencari kemungkinan yang masih terbuka.
Ada orang yang dapat melanjutkan pendidikan secara langsung setelah tamat sekolah. Ada yang harus bekerja terlebih dahulu selama bertahun-tahun. Ada yang baru kembali ke bangku kuliah setelah menikah dan memiliki anak. Ada pula yang harus menunda pendidikan karena kebutuhan keluarga.
Semua perjalanan itu memiliki konteks masing-masing.
Yang terpenting bukan siapa yang paling cepat meraih gelar, melainkan apakah kita masih memiliki kemauan untuk memperbaiki diri dan mengambil langkah yang masuk akal sesuai kemampuan kita.
Kenapa Harus Terus Sekolah?
Bagi saya, ada beberapa alasan mengapa pendidikan perlu terus diperjuangkan.
Pertama, pendidikan membantu kita memperluas cara berpikir.
Kehidupan tidak selalu berjalan sesuai keinginan. Kita akan menghadapi persoalan pekerjaan, keluarga, ekonomi, hukum, sosial, dan hubungan antarmanusia.
Tanpa pengetahuan yang memadai, kita mungkin mudah mengambil keputusan berdasarkan emosi, prasangka, atau informasi yang belum tentu benar. Pendidikan membantu kita belajar menganalisis masalah, membandingkan pilihan, memeriksa fakta, dan mempertimbangkan akibat sebelum bertindak.
Tentu saja, pendidikan formal bukan satu-satunya jalan menuju kebijaksanaan. Pengalaman hidup juga sangat berharga. Namun, ketika pendidikan formal dipadukan dengan pengalaman dan karakter yang baik, keduanya dapat saling memperkuat.
Kedua, pendidikan dapat memperluas kesempatan hidup.
Ijazah tidak menjamin seseorang memperoleh pekerjaan yang layak, memiliki penghasilan tinggi, atau mencapai kesuksesan. Realitas dunia kerja jauh lebih kompleks daripada sekadar gelar akademik.
Meski demikian, kualifikasi pendidikan tertentu tetap menjadi persyaratan bagi banyak profesi dan peluang karier. Pendidikan juga dapat membantu seseorang mengembangkan keterampilan, memperluas jaringan, serta meningkatkan kepercayaan diri ketika menghadapi kesempatan baru.
Karena itu, melanjutkan pendidikan patut dipertimbangkan sebagai salah satu bentuk investasi untuk masa depan, bukan sebagai jaminan keberhasilan.
Ketiga, pendidikan membantu kita mengenali diri sendiri.
Ada orang yang merasa dirinya tidak memiliki kemampuan apa-apa. Ada yang merasa hidupnya tidak memiliki arah. Ada pula yang terus membandingkan dirinya dengan keberhasilan orang lain hingga kehilangan kepercayaan diri.
Dalam kondisi seperti itu, proses belajar dapat menjadi salah satu jalan untuk mengenali potensi, minat, dan kemampuan diri.
Ketika membaca buku, mengikuti perkuliahan, berdiskusi, melakukan penelitian, atau mempelajari keterampilan baru, kita mulai memahami hal-hal yang sebelumnya tidak kita ketahui. Kita dapat menemukan bidang yang menarik perhatian, mengenali kelemahan yang perlu diperbaiki, dan menyadari bahwa kemampuan bukan sesuatu yang selalu berhenti pada keadaan kita hari ini.
Menemukan jati diri memang tidak cukup hanya dengan bersekolah. Kita juga membutuhkan pengalaman, perenungan, hubungan yang sehat, dan keberanian mengevaluasi pilihan hidup. Namun, pendidikan dapat menyediakan ruang untuk menguji pemikiran dan menemukan arah yang lebih jelas.
Keempat, pendidikan melatih kita menjadi lebih bertanggung jawab.
Semakin luas pengetahuan seseorang, semakin besar pula kesempatan baginya untuk memahami dampak dari tindakan yang diambil.
Dalam dunia kerja, pengetahuan dapat membantu kita menyelesaikan persoalan secara profesional. Dalam keluarga, wawasan dapat membantu kita mengambil keputusan dengan lebih bijak. Dalam masyarakat, pemahaman yang baik dapat mendorong kita untuk tidak mudah menghakimi orang lain atau menyebarkan informasi yang belum terverifikasi.
Tentu, gelar tinggi tidak otomatis membuat seseorang bijaksana. Orang berpendidikan tinggi pun dapat melakukan kesalahan. Karena itu, ilmu harus berjalan bersama integritas, empati, kedisiplinan, dan kesediaan untuk menerima kritik.
Kelima, pendidikan merupakan bentuk investasi bagi generasi berikutnya.
Sebagai orang tua, saya menyadari bahwa anak-anak tidak hanya belajar dari apa yang kita katakan, tetapi juga dari apa yang kita lakukan.
Kita dapat berulang kali meminta anak agar rajin belajar. Namun, pesan itu akan lebih bermakna ketika mereka melihat orang tuanya juga bersedia membaca, belajar, memperbaiki kesalahan, dan berusaha meningkatkan kualitas diri.
Saya ingin anak-anak saya memahami bahwa pendidikan bukan kewajiban yang hanya berlaku ketika mereka masih kecil. Pendidikan merupakan bekal untuk menjalani kehidupan dengan lebih baik dan memberikan manfaat kepada orang lain.
Bagi saya, melanjutkan pendidikan di usia yang tidak lagi muda juga menjadi cara sederhana untuk menunjukkan bahwa proses belajar tidak harus berhenti ketika seseorang telah bekerja, menikah, atau memiliki anak.
Pendidikan Bukan Hanya Milik Orang Kaya
Salah satu hal yang sering membuat orang ragu melanjutkan pendidikan adalah persoalan biaya.
Kita tidak boleh menutup mata bahwa pendidikan tinggi membutuhkan biaya, waktu, tenaga, dan pengorbanan. Bagi keluarga berpenghasilan rendah, membayar uang kuliah sambil memenuhi kebutuhan makan, tempat tinggal, kesehatan, dan pendidikan anak merupakan tantangan yang nyata.
Karena itu, mengajak masyarakat untuk melanjutkan pendidikan tidak boleh dilakukan dengan cara meremehkan kesulitan ekonomi mereka.
Tidak tepat jika seseorang yang belum mampu kuliah dianggap tidak memiliki semangat maju. Bisa jadi, ia sedang berjuang agar keluarganya tetap dapat makan dengan layak. Bisa jadi, ia harus bekerja lebih dahulu untuk mengumpulkan biaya pendidikan. Bisa jadi, ia sedang mencari jalur pendidikan yang sesuai dengan kemampuan finansialnya.
Perjuangan setiap orang tidak sama.
Namun, bagi siapa pun yang masih memiliki keinginan untuk belajar, jangan buru-buru menutup pintu kemungkinan.
Cari informasi tentang perguruan tinggi dengan biaya yang sesuai kemampuan. Pelajari beasiswa, bantuan pendidikan, program pembelajaran fleksibel, atau jalur penerimaan yang memungkinkan seseorang bekerja sambil kuliah. Pertimbangkan pula pengakuan pembelajaran lampau apabila tersedia dan memenuhi persyaratan.
Jangan mengambil keputusan pendidikan hanya berdasarkan gengsi. Hitung kemampuan finansial, pahami biaya keseluruhan, pertimbangkan waktu yang dibutuhkan, dan bicarakan rencana tersebut bersama keluarga.
Jika kuliah belum memungkinkan, bukan berarti proses belajar harus berhenti. Membaca buku, mengikuti pelatihan, mempelajari keterampilan digital, memperdalam bidang pekerjaan, belajar bahasa, atau mengikuti kursus yang relevan juga merupakan langkah nyata untuk meningkatkan kualitas diri.
Kita harus memahami bahwa pendidikan formal dan pembelajaran sepanjang hayat saling melengkapi, bukan saling meniadakan.
Jangan memaksakan diri mengambil beban yang tidak sanggup ditanggung, tetapi jangan pula menutup masa depan hanya karena hari ini keadaan belum memungkinkan.
Tidak Ada Kata Terlambat untuk Memperbaiki Diri
Saya sering berpikir, jika seseorang yang lahir pada 1985, menamatkan SMK pada 2005, menjalani berbagai pekerjaan, berkeluarga, dan memiliki tanggung jawab sebagai pemimpin media masih dapat kembali kuliah, mengapa mereka yang lebih muda harus kehilangan semangat belajar sebelum benar-benar mencoba?
Tentu, setiap orang memiliki keadaan yang berbeda. Perjalanan saya bukan rumus keberhasilan yang berlaku bagi semua orang.
Namun, pengalaman ini mengajarkan bahwa usia bukan satu-satunya faktor yang menentukan apakah seseorang masih dapat belajar.
Ada orang yang menyelesaikan kuliah pada usia dua puluhan. Ada yang baru memperoleh gelar sarjana ketika berusia tiga puluhan, empat puluhan, atau lebih. Ada yang tidak mengejar gelar akademik, tetapi terus memperdalam keterampilan hingga menjadi ahli di bidangnya.
Tidak perlu malu menjadi mahasiswa yang lebih tua daripada teman-teman sekelas. Tidak perlu merasa rendah diri karena baru memulai ketika orang lain sudah lebih dahulu menyelesaikan pendidikannya.
Kita tidak sedang berlomba menjalani kehidupan dengan garis awal yang sama.
Yang perlu kita tanyakan kepada diri sendiri adalah: apakah hari ini kita sudah melakukan sesuatu untuk membuat diri kita sedikit lebih baik daripada kemarin?
Jika jawabannya belum, kita masih memiliki kesempatan untuk memulai.
Jangan menjadikan usia sebagai alasan untuk menyerah. Jangan pula menjadikan keberhasilan orang lain sebagai alasan untuk merendahkan diri sendiri.
Setiap orang mempunyai waktu, tantangan, dan perjalanan yang berbeda. Fokuslah pada langkah yang bisa dilakukan sekarang.
Hidup Ibarat Bertani
Ada satu motto hidup yang saya pegang: “Hidup ibarat bertani.”
Dalam dunia pertanian, seseorang tidak mungkin memanen tanaman yang tidak pernah ditanam. Benih harus ditanam, tanah harus diolah, tanaman harus dirawat, dan waktu harus diberikan agar pertumbuhan berlangsung.
Namun, petani yang baik juga memahami bahwa hasil panen tidak selalu maksimal. Cuaca dapat berubah, hama dapat menyerang, dan berbagai keadaan di luar kendali dapat memengaruhi hasilnya.
Begitu pula dengan pendidikan.
Belajar merupakan proses menanam pengetahuan. Latihan merupakan proses merawat kemampuan. Pengalaman menjadi bagian dari proses pertumbuhan. Sementara itu, hasilnya mungkin baru terasa beberapa tahun kemudian, dalam bentuk cara berpikir yang lebih matang, keterampilan yang lebih baik, kesempatan kerja yang lebih luas, atau kemampuan menyelesaikan persoalan dengan lebih bijaksana.
Tidak semua ilmu langsung menghasilkan uang. Tidak semua gelar langsung membawa perubahan ekonomi. Tidak semua orang yang bersekolah tinggi akan mencapai keberhasilan yang sama.
Namun, ketika kita tidak pernah menanam pengetahuan, kita telah menutup salah satu kemungkinan untuk bertumbuh.
Karena itu, jangan hanya belajar ketika ada ujian. Jangan hanya membaca ketika membutuhkan jawaban. Jangan hanya meningkatkan kemampuan ketika terancam kehilangan pekerjaan.
Jadikan belajar sebagai bagian dari kehidupan.
Sebab, sebagaimana petani yang terus merawat tanamannya, kita juga perlu merawat pikiran, memperbarui pengetahuan, dan memperbaiki karakter agar mampu menghadapi perubahan zaman.
Gelar Bukan Tujuan Akhir, Melainkan Tanggung Jawab
Setelah meraih gelar Sarjana Hukum dan kembali menjalani pendidikan magister, saya semakin memahami bahwa gelar akademik bukan alasan untuk merasa paling pintar.
Justru, semakin banyak yang dipelajari, semakin terlihat luasnya pengetahuan yang belum kita kuasai.
Bagi saya, pendidikan tinggi bukan sekadar tentang menambahkan huruf di belakang nama. Pendidikan adalah kesempatan untuk melatih penalaran, memahami persoalan secara lebih mendalam, membangun disiplin berpikir, dan belajar mempertanggungjawabkan pendapat dengan dasar yang jelas.
Gelar akademik seharusnya menjadi pengingat bahwa ilmu yang diperoleh perlu digunakan secara bertanggung jawab.
Seorang sarjana yang bekerja di tengah masyarakat semestinya tidak menjadikan pendidikannya sebagai alat untuk merendahkan orang lain. Seorang magister seharusnya tidak merasa kebal terhadap kritik. Siapa pun yang memperoleh pengetahuan lebih luas sebaiknya semakin terbuka terhadap perbedaan pendapat dan semakin berhati-hati dalam mengambil keputusan.
Pada akhirnya, masyarakat tidak hanya membutuhkan orang yang memiliki banyak gelar. Masyarakat juga membutuhkan orang yang jujur, peduli, mampu bekerja, mau mendengarkan, dan bersedia menggunakan ilmunya untuk kepentingan yang lebih luas.
Pendidikan yang baik bukan hanya membuat seseorang lebih mampu berbicara, melainkan juga membuatnya lebih cermat berpikir dan lebih bertanggung jawab ketika bertindak.
Untuk Mereka yang Sedang Mencari Jati Diri
Kepada siapa pun yang saat ini merasa bingung menentukan arah hidup, merasa tertinggal, atau merasa tidak memiliki kelebihan dibandingkan orang lain, saya ingin menyampaikan satu hal: jangan terburu-buru menyimpulkan bahwa masa depan Anda tidak memiliki harapan.
Mungkin hari ini Anda belum menemukan pekerjaan yang sesuai. Mungkin penghasilan Anda masih terbatas. Mungkin Anda pernah gagal dalam pendidikan, pernah salah mengambil keputusan, atau merasa kemampuan Anda tidak dihargai.
Semua itu memang dapat menimbulkan kekecewaan. Namun, keadaan hari ini tidak selalu menjadi gambaran lengkap tentang siapa diri Anda dan apa yang masih dapat Anda capai.
Mulailah mengenali diri sendiri. Apa yang ingin Anda pelajari? Kemampuan apa yang ingin Anda tingkatkan? Persoalan apa yang ingin Anda kuasai? Perubahan apa yang realistis untuk Anda lakukan dalam enam bulan atau satu tahun ke depan?
Tidak harus langsung mengambil keputusan besar. Anda dapat memulainya dengan membaca satu buku, mengikuti satu pelatihan, belajar satu keterampilan, atau mencari informasi tentang pendidikan yang selama ini ingin Anda tempuh.
Jangan malu bertanya. Jangan takut terlihat belum tahu. Jangan pula merasa rendah diri ketika harus belajar dari seseorang yang lebih muda.
Orang yang bersedia mengakui bahwa dirinya masih perlu belajar justru sedang membuka ruang bagi pertumbuhan.
Kita mungkin tidak dapat mengubah seluruh keadaan dalam waktu singkat. Namun, kita dapat mulai mengubah cara mempersiapkan diri untuk menghadapi keadaan tersebut.
Dan terkadang, perubahan besar dalam kehidupan dimulai dari keputusan kecil yang dilakukan secara konsisten.
Penutup: Teruslah Menanam, Meski Panen Belum Terlihat
Saya tidak pernah menganggap perjalanan pendidikan saya sebagai kisah yang paling hebat. Masih banyak orang yang perjuangannya jauh lebih berat, pengorbanannya jauh lebih besar, dan pencapaiannya jauh lebih luas.
Saya juga menyadari bahwa perjalanan saya belum selesai. Masih banyak ilmu yang harus dipelajari, pengalaman yang perlu diperbaiki, dan tanggung jawab yang harus dijalankan.
Namun, melalui perjalanan dari lulusan SMK, pekerja di berbagai bidang, jurnalis, pengelola media, mahasiswa sarjana, hingga mahasiswa magister, saya ingin berbagi keyakinan sederhana: jangan berhenti mengembangkan diri hanya karena keadaan hari ini belum sesuai dengan harapan.
Bagi generasi muda, jangan menyia-nyiakan kesempatan belajar yang tersedia. Masa muda bukan jaminan bahwa semua hal akan berjalan mudah, tetapi masa yang sangat berharga untuk membangun pengetahuan, keterampilan, karakter, dan arah kehidupan.
Bagi para pekerja, jangan merasa bahwa pekerjaan hari ini harus menjadi batas kemampuan Anda selamanya. Teruslah belajar agar Anda dapat beradaptasi dan membuka peluang baru.
Bagi para orang tua, jika keadaan memungkinkan, berikan dukungan kepada anak-anak untuk menempuh pendidikan setinggi yang dapat mereka perjuangkan. Namun, jangan lupa bahwa teladan terbaik juga datang dari orang tua yang bersedia terus memperbaiki dirinya sendiri.
Bagi mereka yang berasal dari keluarga sederhana, jangan merasa bahwa pendidikan hanya milik orang-orang yang terlahir berkecukupan. Kenali kemampuan Anda, cari kesempatan yang realistis, dan susun langkah dengan penuh pertimbangan.
Dan bagi siapa pun yang merasa sudah terlambat, ingatlah bahwa perjalanan pendidikan tidak selalu harus dimulai pada usia yang sama. Selama masih ada kesempatan dan kemampuan untuk belajar, masih ada ruang untuk bertumbuh.
Pendidikan memang tidak menjamin kehidupan menjadi sempurna. Tetapi pendidikan dapat menjadi salah satu bekal untuk memahami kehidupan dengan lebih baik, mengambil keputusan secara lebih matang, dan memberikan manfaat yang lebih besar kepada sesama.
Saya percaya bahwa Tuhan memberikan manusia kesempatan untuk terus bertumbuh. Keyakinan itu bukan alasan untuk berpangku tangan, melainkan dorongan untuk berusaha, berdoa, memperhitungkan kemampuan, dan menjalani proses dengan penuh tanggung jawab.
Karena itu, teruslah belajar. Lanjutkan pendidikan jika kesempatan dan kemampuan memungkinkan. Tingkatkan keterampilan jika itulah langkah yang paling relevan saat ini. Perluas wawasan, bangun relasi yang sehat, dan jangan berhenti memperbaiki karakter.
Tidak perlu menunggu menjadi kaya untuk mulai belajar. Tidak perlu menunggu menjadi sempurna untuk berani mencoba. Dan tidak perlu menunggu orang lain mengakui kemampuan kita untuk mulai mengembangkan potensi diri.
Hidup ibarat bertani. Tanamlah ilmu hari ini, rawatlah dengan ketekunan, dan biarkan waktu menjadi bagian dari proses pertumbuhan. Hasilnya mungkin tidak selalu sesuai harapan, tetapi kita tidak akan pernah mengetahui kemungkinan yang dapat tumbuh jika kita tidak pernah mulai menanam.
Salam literasi.
Hidup pelajar! Hidup mahasiswa!
Jadilah generasi yang tidak hanya mengejar gelar, tetapi juga memperkaya ilmu, membangun karakter, dan memberikan manfaat bagi kehidupan orang banyak.
Jonrius Sinurat, S.H.
Jurnalis | Pemimpin Umum Media | Mahasiswa Magister Ilmu Hukum



















