![]() |
| Foto: Pdt. Lusiana Nanlohy: Sudahkah Kita Menjadi Gembala yang Baik?. (dok/ist/Jos) |
Sorong, JejakSiber.com – Pertanyaan reflektif mengenai kualitas pelayanan para pelayan jemaat menjadi salah satu pesan utama dalam ibadah doa pergumulan yang digelar di Gereja GKI Syaloom Klademak, Papua Barat Daya, Rabu (30/9/2026).
Ketua Jemaat GKI Syaloom Klademak, Pdt. Lusiana Nanlohy, S.Th., M.Mis., dalam renungannya mengajak para penatua dan syamas dari Rayon 1 dan Rayon 5 untuk bersama-sama merefleksikan pertanyaan sederhana namun mendalam: “Apakah kita sudah menjadi gembala yang baik?”
Menurut Pdt. Lusiana, seorang gembala yang baik bukan hanya memiliki tanggung jawab dalam menjalankan pelayanan, tetapi juga harus mampu memberikan contoh dan teladan bagi jemaat yang dilayaninya.
Gembala dipanggil untuk menuntun, membimbing, mengarahkan, serta membawa domba-dombanya ke jalan yang baik dan benar dalam suasana penuh sukacita.
Ia menjelaskan, sebagaimana domba yang baik mengenal gembalanya, demikian pula seorang pelayan Tuhan seharusnya membangun hubungan yang dekat dengan jemaat yang dipercayakan kepadanya.
“Yang menjadi pertanyaan, apakah kita penatua dan syamas sudahkah kita menuntun mereka mengalami kasih, atau sudahkah kita menjadi gembala yang baik membawa jemaat kita kepada Tuhan? Mari kita sama-sama renungkan,” ungkap Pdt. Lusiana dalam renungannya.
Ia menekankan bahwa menjadi pelayan Tuhan, baik sebagai pendeta, penatua maupun syamas, membutuhkan kerendahan hati dalam menjalankan tugas pelayanan.
Terlebih, dalam kehidupan jemaat tidak selalu setiap nasihat atau arahan dapat langsung diterima dan diikuti. Karena itu, menurutnya, pendekatan kasih menjadi bagian penting dalam menggembalakan umat.
“Menjadi pelayan Tuhan harus merendahkan diri dalam melaksanakan pelayanan. Sebab terkadang jemaat tidak mendengar, oleh karena itu harus dituntun dengan kasih,” pesannya.
Pdt. Lusiana yang baru bertugas di GKI Syaloom Klademak tersebut juga mengingatkan bahwa jabatan sebagai penatua dan syamas bukan semata-mata sebuah kedudukan dalam struktur organisasi gereja.
Jabatan tersebut merupakan panggilan pelayanan yang menuntut keteladanan, kesungguhan dan kerendahan hati. Seorang pemimpin jemaat diharapkan mampu menghadirkan karakter pelayanan yang sesuai dengan kehendak Kristus.
Menurutnya, menjadi gembala yang baik merupakan bagian dari panggilan yang diinginkan Kristus Yesus kepada para pelayan-Nya. Karena itu, setiap pelayan perlu terus mengevaluasi diri agar pelayanan yang dilakukan benar-benar membawa jemaat semakin dekat kepada Tuhan.
Renungan tersebut disampaikan berdasarkan Firman Tuhan dalam 1 Petrus 5:1-11, dengan perikop “Gembalakanlah Kawanan Domba Allah.”
Pesan dalam perikop tersebut kemudian menjadi dasar bagi Pdt. Lusiana untuk mengajak para penatua dan syamas melihat kembali tanggung jawab pelayanan yang mereka emban.
![]() |
| Foto: Pdt. Lusiana Nanlohy: Sudahkah Kita Menjadi Gembala yang Baik?. (dok/ist/Jos) |
Ibadah doa pergumulan tersebut berlangsung dalam suasana khidmat. Para anggota majelis penatua dan syamas tampak hening dan serius mengikuti setiap bagian renungan yang disampaikan.
Melalui refleksi tersebut, Pdt. Lusiana mengajak seluruh pelayan jemaat untuk tidak hanya melihat tugas pelayanan sebagai rutinitas, tetapi sebagai panggilan untuk menuntun, membimbing dan menghadirkan kasih Tuhan di tengah kehidupan jemaat.
Pertanyaan mengenai apakah seorang pelayan sudah menjadi gembala yang baik pada akhirnya menjadi bahan perenungan bersama, agar pelayanan di GKI Syaloom Klademak terus dijalankan dengan ketulusan, kerendahan hati dan kasih. (Jos)
Editor: Js




















