![]() |
| Foto: Dua Anak Muda Indonesia Bikin Ekspor Lebih Mudah Lewat FUTRA. (dok/ist) |
Jakarta, JejakSiber.com – Bagi sebagian pelaku usaha Indonesia, tantangan untuk menembus pasar ekspor bukan semata soal kualitas produk. Persoalan lain yang kerap muncul adalah minimnya pemahaman mengenai tahapan ekspor, mulai dari menentukan negara tujuan, dokumen, HS Code, mencari buyer, menghitung harga, hingga memastikan barang dapat dikirim ke negara tujuan.
Berangkat dari persoalan tersebut, dua anak muda Indonesia, Steven Magnus dan Demas Pratama, mengembangkan FUTRA Export, sebuah ekosistem yang dirancang untuk membantu pelaku usaha memahami proses ekspor secara lebih terstruktur.
FUTRA tidak hanya menitikberatkan pada cara mendapatkan buyer. Ekosistem tersebut mencakup rangkaian perjalanan ekspor, mulai dari memahami produk dan pasar, mengecek kesiapan serta regulasi, menghitung harga jual, mencari dan berkomunikasi dengan calon buyer, melakukan negosiasi, hingga proses shipment.
“Kami melihat banyak orang sebenarnya punya produk yang potensial, tapi bingung karena informasi ekspor ada di mana-mana. Satu informasi ada di website pemerintah, yang lain dari forwarder, buyer, komunitas, atau pengalaman eksportir. Masalahnya bukan tidak ada informasi, tapi bagaimana menghubungkan semuanya menjadi langkah yang bisa dijalankan,” ujar Steven Magnus dalam keterangan persnya yang diterima media ini, Selasa (15/9/2029).
Menurut Steven, tantangan pelaku usaha Indonesia ke depan juga tidak berhenti pada kemampuan melakukan ekspor atau mencari buyer. Persoalan lain adalah bagaimana produk dan perusahaan Indonesia dapat ditemukan serta dipercaya ketika calon pembeli dari luar negeri justru sedang mencari supplier.
“Kita terlalu sering bertanya bagaimana cara mencari buyer. Tapi kita jarang bertanya, ketika buyer mencari supplier Indonesia, apakah mereka bisa menemukan kita? Dan kalau mereka menemukan kita, apakah mereka cukup percaya untuk menghubungi dan bertransaksi dengan kita?” katanya.
Karena itu, FUTRA juga mendorong pelaku UMKM dan calon eksportir membangun digital presence serta personal branding.
Steven menilai banyak pelaku usaha Indonesia sebenarnya memiliki produk, pengalaman, kapasitas produksi, dan kualitas yang berpotensi bersaing di pasar internasional. Namun, informasi mengenai identitas bisnis, produk, kapasitas, dan kredibilitas mereka belum tentu mudah ditemukan secara digital.
“Personal branding yang kami maksud bukan berarti semua pengusaha harus menjadi influencer. Yang kami dorong sederhana: jangan sampai bisnis yang sebenarnya bagus justru tidak terlihat,” jelasnya.
Menurut Steven, calon buyer saat ini dapat melakukan penelusuran terhadap calon mitra bisnis melalui website, LinkedIn, media sosial, aktivitas perusahaan, hingga jejak digital lainnya sebelum membangun kepercayaan.
Karena itu, edukasi ekspor dinilai tidak cukup hanya membahas dokumen dan transaksi. Pelaku usaha juga perlu memahami cara membangun kredibilitas serta menunjukkan kompetensi kepada calon mitra internasional.
Steven sendiri telah menjalankan bisnis ekspor sejak usia muda dan aktif membagikan pengalaman perdagangan internasional kepada mahasiswa, UMKM, serta calon eksportir.
Bersama Demas Pratama, pengalaman tersebut kemudian dikembangkan menjadi FUTRA sebagai ekosistem yang menghubungkan pembelajaran dengan praktik ekspor di lapangan.
Demas mengatakan, salah satu persoalan yang sering dihadapi eksportir pemula adalah terlalu cepat berfokus pada pencarian buyer.
“Semua orang ingin tahu cara mendapatkan buyer. Padahal ketika buyer datang, pertanyaan berikutnya justru lebih berat: produknya siap atau tidak, harganya sudah benar atau belum, dokumennya bagaimana, kapasitas produksinya cukup atau tidak, dan barangnya bisa masuk ke negara tujuan atau tidak. Itu yang ingin kami bantu rapikan,” kata Demas.
Untuk mendukung proses tersebut, FUTRA mengembangkan futraexport.com, platform yang menggabungkan informasi, tools, pembelajaran, serta sistem pendampingan perjalanan ekspor.
Ekosistem tersebut diarahkan untuk membantu pengguna memahami tahapan ekspor, mulai dari validasi produk, kesiapan regulasi dan compliance, pengembangan pasar, komunikasi dengan buyer, hingga shipment.
Meski mengandalkan teknologi, Steven dan Demas menegaskan bahwa teknologi bukan tujuan akhir. Mereka ingin memperluas pemahaman bahwa ekspor tidak hanya dapat dilakukan oleh perusahaan besar atau pelaku usaha yang telah memiliki koneksi internasional.
“Kami ingin suatu hari orang yang baru punya ide untuk ekspor tidak harus membuka puluhan sumber dan bertanya ke mana-mana hanya untuk mengetahui langkah pertamanya. Harapannya, dia bisa memahami posisi bisnisnya, apa yang kurang, lalu tahu harus bergerak ke mana,” ujar Steven.
Dalam pengembangannya, FUTRA juga berinteraksi dengan sejumlah institusi dan pemangku kepentingan dalam ekosistem perdagangan Indonesia.
FUTRA disebut telah melakukan audiensi dengan Kementerian Perdagangan Republik Indonesia untuk membahas pengembangan ekspor, pendampingan UMKM, business matching, serta peningkatan kapasitas pelaku usaha agar lebih siap memasuki pasar global.
Bagi Steven dan Demas, berbagai pertemuan tersebut menjadi bagian dari upaya memperluas akses pengetahuan dan pendampingan ekspor.
Mereka melihat masih terdapat kebutuhan untuk membuat informasi perdagangan internasional yang kompleks menjadi lebih mudah dipahami dan diterapkan oleh pelaku usaha.
Pada akhirnya, menurut keduanya, tantangan Indonesia bukan hanya soal memiliki produk yang dapat dijual ke pasar dunia. Pelaku usaha juga perlu memiliki kesiapan, visibilitas, serta kredibilitas agar dapat ditemukan dan dipercaya oleh calon mitra internasional.
Informasi mengenai ekosistem dan tools FUTRA Export dapat diakses melalui futraexport.com.
Redaksi tetap membuka ruang konfirmasi dan klarifikasi kepada pihak-pihak terkait sebagai bagian dari prinsip keberimbangan pemberitaan. (*)
Editor: Js



















